Heldani, Erik


Perkenalkan, Warmon (RIP), Wermon, dan Wormon! (Bag. 9)
February 18, 2009, 11:05 am
Filed under: Jurnal

Akhirnya……

Setelah sekian lama gw menunggu, akhirnya datang juga. Bukan siapa-siapa yang datang, yang datang adalah perubahan. Perubahan salah satu dari binatang peliharaanku yang manis dan lucu, Wermon.

Si Wermon yang dulunya paling doyan makan, paling sering buang pup, dan pupnya banyak banget, kini sudah berubah menjadi kupu-kupu, eh, maaf, ngengat yang indah. Dia punya sayap hijau bergaris putih, sangat cantik untuk ukuran ngengat yang baru gw pelihara. Eh tapi gw gatau deng apa jenis kelamin mereka. Apakah jantan, ataukah betina?

Yang jelas, perubahan yang tak gw sangka ini membuat gw bahagia. Rasanya gw telah berhasil menyekolahkan anak gw sampai dia jadi dokter. Hahahaha….berlebihan!

Ceritanya, pada dua pagi hari yang lalu, eh siang deng, gw memeriksa keadaan mereka. Dengan sangat kaget, gw lihat ada cairan yang belepotan di bawah box tempat Wermon dan Wormon tinggal. Dan setelah gw selidiki, ternyata salah satu kepompong yang tergantung di dalamnya usag kosong. Ya, si Wermon udah berhasil keluar dari kepompongnya. Dia kelihatan sedang bertengger di samping box, dengan perut masih gendut, sayap depan terbuka, serta sayap belakang masih menempel di bawah sayap depannya.

Karena di bawahnya ada cairan cokelat yang sudah mengering, kupikir si Wermon itu terluka, jadinya dia gw keluarkan aja. Gw biarkan dia menghirup udara segar dari luar boxnya. Gw biarkan dia kena angin dan panas matahari agar sayap belakangnya cepat kering. Tapi ketika gw biarkan dia berjemur, dia menyemprotkan cairan cokelat muda itu lagi. Entah dari mana, mulut atau duburnyakah? Kejadiannya cepat sekali.

Karena panik, gw langsung hubungi sang ahli kupu-kupu aja untuk memastikan kondisi yang ada pada Wermon. Menurut si ahli, serangga macam kupu-kupu memang melakukan hal itu. Mereka berusaha mengeringkan sayapnya sampai benar-benar kering sambil memompa cairan berlebih pada tubuhnya agar ia dapat terbang dengan tubuh yang proporsional.

Aaaahhhhh, leganyaaaa…..

Keesokan harinya….si Wermon sudah tak terlihat lagi…..

Pasti, pasti pada pagi hari ketika gw masih terlelap tidur, dia sudah berhasil mengeringkan sayapnya dan telah terbang keliling dunia untuk menebarkan kasih, mencari pasangan hidupnya, agar bisa menjaga kelestarian spesiesnya. Oh, indahnya…..

Dan di pojok box, yang tersisa adalah onggokan selubung kepompong Wermon yang sudah sepenuhnya kosong dan kering, ditemani oleh si Wormon yang masih betah menjadi kepompong, tanpa gw tahu kapan dia akan mengikuti jejak Wermon, si ngengat sejati.



Perkenalkan, Warmon (RIP), Wermon, dan Wormon! (Bag. 8)
February 15, 2009, 9:59 am
Filed under: Jurnal

Duh, duh, duh….sehari ga diliat, ko kalian malah tambah nakal sih? Kan katanya kepompong itu biasanya menggantung di ranting atau dahan pohon, dan di bawah daun juga, tapi ko kalian gamau menggantung sih?

Kemaren-kemaren kan gw udah membuat kalian jadi menggantung kan? Ko kalian malah turun lagi sih? Kenapa? Ga betah?

Huuuuu….ngomong dong!

Eh, lupa, kalian mah ga bisa ngomong ya?

Ya udah atuh, besok aja yah kalian gw gantung lagi. Hari ini mah ujan aja seharian. Tadi juga kan pas gw mau gantung kalian, eeeehhh, ujan malah turun lagi.

Oh iya, semut-semut nakal itu pada dateng lagi ga? Kalo ngga sih Alhamdulillah, ternyata kapur itu ajaib juga. Eh tapi kalian jadi keracunan ga? Secara kalian kan serangga juga. Eh, kalian mah masih calon serangga deng! Pasti kapurnya ga ngefek ke kalian deh.

Nanti kalo semut-semutnya dateng lagi, bilang-bilang yah! Eh, lupa lagi, kalian kan ga bisa ngomong. Ngomong-ngomong tentang ngomong, jadi ingat lagu Kalau Bulan Bisa Ngomong. Nah, kalo kalian bisa ngomong, liriknya diubah aja jadi:

Kalo kepompong bisa ngomong

Sayang kepompong ga bisa ngomong

Coba kalo bisa ngomong

Dia pasti tak akan bohong….

Hihihihi, boro-boro berbohong, kalian sih bodong! Eh tapi liaaatttt, kalian warnanya udah berubah dikit yah, ga oranye cerah lagi, tapi sekarang udah aga menggelap kehitaman gitu. Syukur deh!

Teruslah berubah ya!!!!!!!!!!!!



Perkenalkan, Warmon, Wermon, dan Wormon! (Bag. 7)
February 14, 2009, 10:07 am
Filed under: Jurnal

Waaaaaaaaaaaaahhhhhh, udah kelamaan yah kayanya semenjak gw terakhir kali nulis tentang ketiga peliharaan gw, Warmon, Wermon, dan Wormon. Tadinya sih mau nulis tiap dua hari sekali, biar ada ide buat nulis apaaa gitu walalupun perubahan yang terjadi pada ketiga peliharaan gw itu sangat lambat sekali.

Dan setelah dua hari ga gw pantau keadaan mereka, ternyata….

TIDAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKKKKKKK…………….

Si Warmon, Si Warmon, Si Warmon peliharaanku tercinta yang paling cepat berubah bentuk dari ulat menjadi kepompong, dan kepompongnya pun tampak lebih besar dan berbeda dari kedua saudaranya, kini sudah tiada.

Hiks, sehari ga ditengok tuh ternyata malah membawa bencana. Si Warmon diserbu oleh ratusan semit yang kurang ajar. KURANG AJAR sekali para semut itu! Seperti yang ga ada sasaran lain saja yang bisa mereka makan. Wahai para semut, Warmon itu ulat yang kini sedang bertransformasi menjadi kepompong. Dia lagi bersemedi, ga bisa berbuat apa-apa kalo diusik kalian, karena tubuh yang cairan enzimnya dilindungi kulit kepompong itu tengah berubah. Ko kalian tega amat sih???

Dengan sangat sedih dan menyesal, si Warmon pun gw kebumikan aja. Tak ada upacara khusus yang menyambut kepergian dia.

Semoga dia betah selamanya di alam sana. Nanti di Akhirat, kita akan bertemu kembali kan? ketika bertemu dengan gw, gw harap Warmon sudah berupa kupu-kupu yang indah….

Untunglah, para semut sialan itu belum sempat menyerang Si Wermon dan Wormon. Dan untuk melindungi mereka dari serangan semut lainnya, akhirnya peliharaanku yang  tersisa, kulindungi dengan sapuan kapur ajaib. Mudah-mudahan gaada semut yang bisa melewati garis kapur ajaib itu.

Dan kata sang ahli kepompong, kepompong itu biasanya ada dalam posisi menggantung. Maka dari itu, Wermon dan Wormon pun gw gantung aja badannya. Hehehe, bukan digantung pake tali ko, tapi mereka gw kasih selotip di ujung ekornya. Gw tempel deh mereka di dinding box tempat mereka hidup selama ini dengan berharap  keajaiban akan datang secepatnya.

Tapi lagi-lagi hari ini gw ga bisa melihat keadaan mereka. Mudah-mudahan mereka betah digantung seperti itu. Ekornya ada di sebelah atas, dan kepalanya ada di bawah.



Perkenalkan, Warmon, Wermon, Wormon! (Bag. 6)
February 10, 2009, 11:47 am
Filed under: Jurnal

Malas.

Malas pangkal bodoh.

Malas pangkal miskin.

Malas pangkal kemalasan.
Hahaha, jangan jadi pemalas!

Hari entah kenapa gw malas banget nulis blog ini. Dari tadi pengennya mainin Si Pokora melulu. Selain itu, karena tadi gw chatting sama dua temen SMA gw, maka kegiatan nulis di blog ini pun jadi aga tertunda. Kalau udah tertunda kaya gitu, gw suka jadi males nulis lagi.
Hehehehe, tapi sekarang gw udah ga malas lagi. Buktinya ini tulisan udah ada.

Hmmmm, kalau dipikir-pikir mungkin gw malas nulis blog ini karena pengaruh dari si Warmon, Wermon, dan Wormon. Mereka sekarang kan lagi malas-malasnya. Dari kemarin mereka ga ngapa-ngapain. Cuma diemmmm aja. Padahal hari ini gw udah jemur mereka di terik matahari jam 2. Hahaha, gosong deh salaha satu dari mereka. Hehehe, ngga deng!

Nah, berhubung mereka ga mau menunjukkan perubahannya sebagai kepompong, mungkin gw nulisnya juga ga bakal tiap hari kali yah. Mungkin tiap dua hari aja. Tapi fotonya gw ambil tiap hari loh. Dan akan di-update atau di-upload tiap gw nulis aja. Hehehe, dasar malassss….

Duh, udah mau jam 2 pagi nih. Gw mau pulang ah, mau teruskan nonton Sex And The City season 6. Tinggal berapa episode lagi yah?

Mudah-mudahan cepet selesai deh, gw kan punya banyak PR film seri. Haduuuuh, kalo mikirin film seri-film seri yang harus gw tonton, rasanya kepala ini tambah gatal.

Ada jerawat nih di kepala gw. huuuuuh, gatallll….



Perkenalkan, Warmon, Wermon, dan Wormon! (bag. 5)
February 9, 2009, 11:21 am
Filed under: Jurnal

Ini keajaiban alam,

Aku mempercayainya,

Ini keajaiban alam.

Huuuuuu….mana keajaiban alamnya? Ko ga muncul-muncul ya? Apa emang selama ini? Hehehe, si Warmon, Wermon, dan Wormon yang udah jadi kepompong itu tidak juga menunjukkan perubahan yang berarti.

Mereka masih seperti kemarin, kepompong lucu yang pendiam kalau hanya dilihat, tapi kalau disentuh-sentuh sih mereka bisa bergerak juga.

Kalau dipikir-pikir, siklus kehidupan ulat itu sangat indah ya? Sangat bermanfaat kalau diterapkan pada pola kehidupan manusia. Lahir, makan, tidur, terbang. Hehehehe, bagus apanya?

Awal mula ulat yaitu dari telur yang dihasilkan setelah sang induk kupu-kupu mengalami perkawinan. Telur yang kupu-kupu hasilkan itu disimpan di tempat yang banyak terdapat suplai makanan untuk si telur yang kelak menetas menjuadi ulat. Nah, kalau telur udah menetas, si ulatlah yang keluar. Dia tentu saja akan memakan dedaunan yang ada di sekitarnya. Wah, pintar sekali yah induk kupu-kupu itu. Tau tempat yang baik bagi snak-anaknya kelak.

Di tempat yang berlimpah makanan itulah sang ulat memulai kehidupan yang keras. Mungkin orang banyak hanya melihat bahwa ulat itu kerjaannya hanya memakan dan menghabiskan daun yang telah manusia rawat baik-baik, tapi mungkin pandangan seperti itu harus mulai kita ubah. Ulat hanya makan sampai batas ia kenyang saja.

Benar sih si ulat itu memang rakus, tapi kalau sudah kenyang, dia akan berhenti sendiri kok. Ulat akan mencapai waktu kenyangnya kira-kira selama dua minggu. Hahaha….ga nyampe deng. Tergantung jenis atau speciesnya. Nah, kalau species si Warmon, Wermon, dan Wormon, sih nyampe seminggu lebih lah.

Gw juga ga terlalu perhatikan awal mula mereka menetas sih, jadinya ga yakin usia mereka saat menajdi ulat. Tapi kini dalam kondisi kepompong, Warmon, Wermon, dan Wormon kondisinya selalu gw pantau tiap hari. Hohohoho….

Kini dua di antara mereka berwarna oranye cerah, sedangkan salah satunya berwarna oranye dengan punggung hitam gelap. Karena tempat mereka sudah dibersihkan dari kotoran dan ranting, makan kini mereka dapat bergerak bebas, berguling ke sana kemari untuk mencari tempat strategis.

Hihihihi, lagian mereka mau ngapain ya berguling-suling kaya yang gw pikirkan. Ada juga, mereka mah lagi bertapa setelah makan banyak.

Kalau manusia sih bertapa, nah kalau ulat sekarang sedang dalam bentuk kepompong. Mereka sedang merenung, akan manjadi kupu-kupu macam apa nantinya. Semoga indah!



Perkenalkan, Warmon, Wermon, dan Wermon! (Bag. 4)
February 8, 2009, 8:58 am
Filed under: Jurnal

Semakin hari semakin cinta,

Semakin hari semakin rindu,

Semakin dalam perasaan kasih dan sayangku kepada kamu….

Hehehe, itu adalah sepenggal lirik lagu grup band Ratu yang berjudul…judulnya apa ya? Semakin Hari kalo ga salah, hehehe….

Mungkin lirik lagu itulah yang mewakili rasa sayang gw pada ketiga binatang peliharaan gw saat ini. Mereka adalah Warmon, Wermon, dan Wermon. Tiga makhluk kecil yang kini sedang dalam tahap menjadi kepompong.

Ya, ulat-ulat kecil itu kini tengah bertransformasi menuju bentuk selanjutnya sebelum menjadi kupu-kupu yang indah. Entahlah, indah atau tidak, yang penting mereka dapat mengembangkan sayapnya, terbang melayang jauh tinggi di awan.

Hari ini gw belum melihat perkembagan mereka sih, tapi terakhir kemarigw lihat mereka baik-baik saja, bahkan semuanya sudah dalam bentuk kepompong. Liat aja fotonya berlatar belakang gedung Rumah Sakit Persahabatan. Jadi kaya judul lagu yah….

Persahabatan bagai kepompong,

Mengubah ulat menjadi kupu-kupu….

Hihhihi, bisa aja yah gw ini.

Oh iya, mau tau kan foto terakhir kondisi mereka? Ini nih:

Si Warmon:

Si Wermon:

Si Wormon:

Ada videonya juga loh, lucu-lucu sih mereka, kalo dipegang gitu, ekornya suka gerak-gerak. Padahal mereka kan lagi dalam kodisi puasa, bisu, buta, dan tuli pula. Tapi Allah memberikan kelebihan perasaan pada mereka, jadi meraka cuma protes sedikit kalo kena gerakan apalagi kalau dipegang-pegang.

Apakah mereka tahu apa yang terjadi di luar selubung kepompong mereka? Hanya Allah SWT yang tahu.

Apakah mereka tahu kalau di luar selubung kempompong mereka terjadi hujan terus-menerus sehingga pakaian gw terpaksa dicuci di rumah tante, sebagian udah kering, dan sebagian lagi masih setengah basah? Hanya Allah SWT yang tahu.

Apakah mereka tahu bahwa di luat selubung kepompong mereka, gw tulis perkembangan keadaan mereka di depan komputer di kantor dan menunggu malam tiba tapi hujan malah turun begitu derasnya sedangkan aku ga bawa jas hujan? Hanya Allah SWT yang tahu.

Apakah gw bisa pulang cepat karena deadline dimajukan jadi jam 9 malam tapi ternyata hujan turun lagi dan itu berarti bahwa gw harus menunggu lebih malam agar pulang ga kehujanan?

Wallahu alam bisshawab!

Hanya Allah SWT yang tahu!



Perkenalkan, Warmon, Wermon, dan Wormon! (Bag. 3)
February 6, 2009, 11:13 am
Filed under: Jurnal

Apakah binatang peliharaanku ini akan sukses melewati masa hidupnya sebagai makhluk hidup dan sebagai hewan peliharaanku?

Gw ga tau, hanya Allah SWT dan waktulah yang bisa menjawabnya.

Sedari dulu, gw yang sedikit terobsesi memiliki hewan peliharaan terhebat di dunia, menjadi sedikit pesimistis karena setiap punya binatang peliharaan, selalu diakhiri dengan perpisahan.

Perpisahan yang dimaksud adalah perpisahan untuk selamanya dan perpisahan untuk sementara tapi selamanya. Perpisahanselamanya yang pertama memang bermakna “berpisah sampai ajal memisahkan kami”. Binatang peliharaanku yang meninggalkan gw dengan cara ini akan selalu gw kenang dalam hati karena kuburnya entah di mana. Lupa nguburinnya di mana, saking banyaknya. Dan binatang yang berpisah sementara tapi untuk selamanya, apakah kita akan bertemu lagi?

Mereka adalah para kelinci yang baik hati, selalu meninggal tanpa gw tau apa penyebabnya. Apakah karena gw salah nagasih makana? Apakah karena mereka kedinginan? Atau karena mereka terlalu kecil untuk dipisahkan dengan induknya? Gw gatau.

Para kura-kura, walaupun kalian jauh berasal dari Brasil, tapi kalian lekat erat di hati gw. Kematian kalian yang sangat tragis, membuat gw jadi dendam pada yang namanya tikus. Yah, walaupun hanya satu di antara kalian yang dimakan tikus, namun si tikus akan selalu gw benci sampai kapan pun. Dan kura-kura yang lain, yang meningal karena mata kalian ga mampu melihat makanan yang ada di hadapan kalian, yang membuat kalian mati kelaparan, gw minta maaf. Seluruh daya dan upaya telah gw kerahkan supaya kalian bisa bertahan hidup.

Para hamster, si lucu berbulu lembut, maafkan ketidaknyamanan kalian atas kurangnya makanan yang gw berikan. Gw gatau, bener-bener gatau kalau kalian sangat rakus. Makanan segitu banyaknya masih kurang juga? Busyet dah. Apa harus dengan cara memakan teman sendiri supaya kalian merasa kenyang? Ataukah dengan cara memakan teman sendiri kalian melepaskan diri dari ketaknyamanan? Percayalah, gw berusaha membuat kalian senang dengan semua yang telah gw berikan. Kotak itu, roda mainan itu, kuaci itu….

Paraa kecebong mungil yang malang, mengapa tak kalian beri gw kesempatan untuk melihat kalian tumbuh, berubah menjadi katak yang menjijikan? Apakah itu balasan atas matinya saudara-saaudara kalian yang gw buang ke septik tank?

Kucing-kucingku yang paling kusayang….

Chibi, Maru, Gito, Mito, Ledger, dan Nyonyo, serta anak-anaknya Maru yang ga pernah gw kenal… Gw minta maaf yang sebesar-besarnya karena telah menyerahkan kalian pada orang lain. Itu semua gw lakukan karena gw sayang kalian. Keadaanlah yang memaksa gw melakukan itu. Andai saja kita masih dapat bersama….

Dan kini, di hati gw sedang ada tiga makhluk lembut yang tengah bermetamorfosis, sebentar lagi mereka akan membuat hidup mereka sempurna, akanmembuat gw bangga karena telah berhasil memelihara mereka sampai tuntas. ya metamorfosis sempurna, tuntas. Tapi kalian masih ada dalam perjalanan menuju itu semua. Kapankah kalian akan bebas, terbang, membuat gw iri dengan sayap-sayap kalian?

Warmon, ajari Wermon untuk cepat berubah sepertimu. Wermon lihatlah perubahan Warmon yang kini terlihat seperti kepompong sempurna. Wormon, apa yang kamu lakukan? Apa kamu tak akan mengikuti jejak Warmon dan Wermon yang kini telah berubah pada tahap kepompong? Jangan diam dan tetap berbentuk ulat seperti itu dong!

Ayolah, buat gw bangga! Cepatlah berubah! Cepatlah terbang! Bawa cita-cita gw terbang bersama kalian!



Perkenalkan, Warmon, Wermon, dan Wormon! (Bag. 2)
February 5, 2009, 11:06 am
Filed under: Jurnal

Pasti di antara kalian ada yang bertanya-tanya dalam hati, “Ngapain sih melihara binatang menjijikan kaya gitu?”

Hmm, pertamanya sih gw juga merasa jijik dengan binatang yang satu itu. Ulat, iiiihhhh, pasti bikin gatal deh di kulit ini. Eits, tunggu dulu. Ternyata ga semua ulat menimbulkan gatal-gatal pada kulit kita. Sepengetahuan gw sih cuma ulat berbulu aja yang menimbulkan gatal-gatal, kalau yang ga berbulu sih dijamin aman. Buktinya gw ga ada masalah nih setelah menyentuh-nyentuh mereka.

Alkisah dua minggu yang lalu, gw sempat terkaget-kaget dengan menghilangnya daun-daun yang ada di sebuah pot adenium di rumah tante gw. Ow, ternyata eh ternyata ada ulat di batangnya. Dengan lahap. sang ulat menggerogoti selembar daun terakhir yang tersisa di pohon itu. Di bawahnya, sudah berserakan banyak pup sang ulat. Ih jijiknya!

Tak puas telah menemukan dua ulat, gw lalu berkeliling taman adenium di lantai dua rumah tante gw itu. Owwww, di ujung sana ternyata ada juga adenium yang gundul. Sama sekali gaada daunnya. Eh, ada deng. Masih ada dua daun yang tersisa. Kedua daun itu tengah digerogoti masing-masing oleh seekor ulat. Yang satu aga besar (sebesar telunjuk orang dewasa) dan satunya lagi sebesar kelingking orang dewasa.

Dengan banyak pikir, gw putuskan untuk membunuhnya, tapi tak tahu harus dengan cara apa membunuh keempat makhluk menyeramkan itu.

5 menit berlalu, cutter sudah di tangan. Tangan ini sudah siap untuk memotong. Hahahaha…Kejam sekali yah kedengarannya? Hahahaha….

Lalu…. Sret, sret, sret…

Empat tangkai adenium pun gw potong, tepat beberapa senti di bawah si ulat bertengger. Untungla ulatnya bukan ulat bulu atau ulat jengkal yang larinya cepet banget.

Si ulat kayanya pemalu deh, pokonya tiap kena gerakan yang asing, dia langsung diam tak bergerak.

Karena bingung mau diapakan, maka di bunuh dengan cutter itu pun urung gw lakukan. Oh iya, saya bawa aja mereka ke kamar mandi. Bukan untuk dimandikan, tapi saya masukkan ke kloset, dan….flush…..

Mereka pun tenggelam dibawa arus toilet…..

Dua minggu kemudian, di tempat yang tak jauh dari tempat gw temukan pertama kali keempat ulat itu, gw temukan lagi tiga ulat yang sama menjijikannya. Akan tetapi, rasa kasihan ini lebih menggelora, mengalahkan rasa jijik dan geram pada ketiga makhluk rapuh itu.

Setelah berpikir panjang lebar, maka gw putuskan untuk memeliharanya saja. Ya, MEMELIHARANYA!

Gw ingat, saudara sepupu gw punya pet box bekas dia pelihara ular. Nah, kayanya ularnya sudah gaada, maka gw pinjam saja boxnya. Pada mereka gw udah bilang mau pelihara ulat, tapi mereka ga percaya.

Dan sesampainya di tempat si ulat, gw laksanakan aksi menyelamatkan mereka. Hahaha…. mulai saat itu, gw punya binatang peliharaan baru. Mereka adalah Warmon si pemberontak, Wermon si tukang ee, dan Wormon si ulat sejati.

Kini, mereka sudah tak berwarna oranye muda lagi seperti saat pertama gw temukan mereka. Mereka sudah berubah hampir menjadi sempurna.  Dengan punggung yang sudah menghitam dan kaki-kaki keci mereka sudah hilang menyatu dengan tubuhnya, pertanda babak baru akan segera mereka lalui.

Si Warmon yang pemberontak, sudah berubah satu langkah di atas Wermon dan Wormon.

Warmon telah menjadi kepompong muda. Belum sepenuhnya menjadi kepompong karena kalo dipegang masih bergerak-gerak. Lain halnya dengan Wermon dan Wormon yang baru kehilangan kaki-kaki kecilnya.

Tak sabar ingin segera melihat mereka berubah.

Akan seperti apa mereka nantinya? Apakah jadi kupu-kupu yang lucu???

SEMOGA!!!



Perkenalkan, Warmon, Wermon, dan Wormon! (Bag. 1)
February 4, 2009, 10:31 am
Filed under: Jurnal

Menjadi salah satu makhluk yang ditugaskan untuk menjadi khalifah di bumu ini merupakan tugas berat yang disandang manusia. Manusia harus bisa mengurus segala apa yang telah diberikan-Nya di bumi ini. Tugas mengelola adalahsalah satu tangung jawabnya.

Tak hanya harus mengelola dirinya, manusia juga harus bisa memanfaatkan semua aspek materiil baik benda hidup dan benda mati yang ada di sekitarnya. Salah satu benda hidup di sekeliling manusia adalah tumbuhan dan binatang. Tumbuhan dan hewan menjadi penunjang kehidupan manusia yang ternyata membutuhkan kehadirannya satu sama lain.

Sehubungan dengan itu, maka manusia tak boleh semena-mena terhadap apa yang seharusnya ia jaga. Menjadi sahabat tumbuhan dan binatang adalah solusi terbaik.

Itulah yang kira-kira gw lakukan saat ini. Menjadi sahabat tumbuhan dan binatang.

Sudah beberapa jenis tumbuhan menjadi teman hidup gw. Memang dari kecil gw diajari untuk menyayangi semua jenis tumbuhan. Semuanya berasal dari bapak gw. Hebat sekali bapak gw itu. Dia punya banyak jenis tanaman pangan dan buah-buahan serta sayuran. Oh, tanaman penghasil kayu pun ia miliki. Sebut saja padi, singkong, ubi, jagung, rambutan, pisang, pepaya, mangga, alpukat, durian, petai, sirsak, jeruk, manggis, duku, dan lainnya. Di sudut sayuran, ada labu siam, labu parang, pare, mentimun, cabai, terung, lobak, dan beberapa jenis tanaman bumbu dan obat-obatan keluarga.

Tak hanya itu, beberapa saat yang lalu, saat indonesia digoncang oleh gelombang cinta, cinta tante gw pada tanaman hias kian menggelora. Dia menularkan kecintaannya pada bunga adenium, aglaonema, anthurium, pachipodium, euphorbia, dan tanaman eksklusif lainnya.

Kalau sang istri, tante gw, pencinta tanaman hias, makan sang suami, om gw, adalah pencinta binatang. Sudah banyak hewan peliharaan yang ia miliki dan tak jarang berakhir dikangkangi batu nisan. Mereka adalah ikan air tawar (ikan mas, nila, koi, dll), ikan air laut(clown fish, pari, baronang, kuda laut, dan kerapu), ayam, dan burung (perkutut, kenari, tekukur, beo, anis, dan lainnya).

Nah, atas perngaruh itu, maka gw yang hidup bersama mereka menjadi (suka tak suka) pencinta tanaman dan binatang juga.

Adapun binatang yang pernah gw pelihara adalah ayam, kelinci, kucing, kura-kura, kecebong, dan terakhir….adalaahhhhh….

ulat.

Ya ULAT.

Mereka adalah Warmon,

Wermon,

dan Wormon.

Umur mereka kira-kira udah 3 minggu. Hm….akan seperti apa mereka setelah dewasa?

Ikuti Blog ini sampai akhir….

Hahahaha…… bersambung!



Dipanggil Super Bos
February 3, 2009, 11:09 am
Filed under: Real Life

Minggu lalu jadi pekan yang tak terlupakan bagi gw. Setelah bekerja selama setahun di perusahaan ini, membuat gw lebih mahir dalam mengerjakan apa yang sudah seharusnya gw kerjakan. Baca sebanyak apa pun tulisan, tak membuat mataku gentar. Hanya saja, kalau batin ini sedang terasa gundah, tulisan yang salah pun kadang terasa benar saja di mata.

Terbukti ketika saya membaca tullisan di bawah foto alias caption foto, ada sedikit kata, satu kata yang tertulis salah, Kata itu adalah “terebut”, padahal seharusnya “tersebut”.

Fatalnya lagi, itu adalah caption foto untuk gambar sang Presiden RI sekarang ini, Pak SBY.

Gara-gara kurang “s”, saya sempat dimaki-maki atasan.

Itu adalah salah satu kesalahan yng muncul karena kecerobohan gw pada halaman 1 koran kita tercinta ini. Yah, walau kesalahan kecil, tapi berasa banget tendangannya.

Apalagi keesokan harinya gw dan temen gw dipanggil ke ruang SUPER BOS perusahaan itu. Waduh, gw udah ngeper aja, siap-siap sipecat deh.

Dan seperti dugaan, gw di sana diberi sedikit “ceramah” supaya ga bikin koran ini jadi memalukan karena ada kesalahan bahasa.

Hmmmmm kirain gw bakal diapain, ternyata…..

Yah, Pak, saya sih udah berusaha untuk bekerja semaksimal mungkin, tapi namanya juga manusia, pasti ga luput dari kesalahan.

Saya mohon maaf atas kesalah yang saya perbuat itu!

Dan…kami pun berjalan gontai ke luar ruangan Pak Bos.

Sesampainya di ruangan gw lagi, kami bekerja seperti biasa. Mencoba tak ulangi kesalahan serupa dan rupa-rupa.

Namun rupanya kesalahan tak hanya gw yang buat hari kemarin (di koran hari esoknya) karena setelah gw baca koran versi bogor (Jurnal Bogor) ada kesalahan fatal yang menggelikan. Lucu!

Di koran gw, Jurnal Nasional, ada sisipan berita olahraga (bernama Top Soccer) sebanyak 8 halaman terpisah setiap harinya, tapi itu jadi satu paket dengan koran Jurnal Nasional. Sepaket dijual seribu rupiah saja. Begitu pula di bogor ada sisipan Top Soccer yang sama pada koran Jurnal Bogor-nya. Juga dijual seribu rupiah saja.

Hari itu headlines Top Soccer kami adalah JINAKKAN KANGURU, yang bermaksud memprovokasi agar timnas sepak bola Indonesia “menjinakkan” atau mengalahkan timnas sepak bola Australia yang bertanding di Senayan hari itu.

Di koran Jurnal Nasional halaman 1, ada navigasi (judul berita yang ada di halaman sekian) tentang headlines Top Soccer tersebut. Di Jurnal Bogor pun ada.

Di Jurnal Nasional halaman 1 tertulis navigasi JINAKKAN KANGURU, sedangkan di Jurnal Bogor yang ada adalah navigasi…..

DIMAKAN KANGGURU.

Ya, betul!!!

DIMAKAN KANGGURU!

Dan timnas Indonesia pun tak berhasil jinakkan kanguru, pun tak berhasil dimakan kangguru. Hanya kacamata 0-0 yang didapat.