Heldani, Erik


Resensi Buku KABAR BUNGA
August 14, 2009, 6:57 pm
Filed under: Serius

Judul: Kabar Bunga

Pengarang: Marsiraji Thahir

Penerbit: Qish-U (Pro-U Media)

Tahun terbit: 2008

Tebal: 492 halaman

Harga: Rp 44.000

Ganjaran Umat yang Sabar

Apakah Anda pernah mengalami ujian berat dalam hidup ini? Lalu, apakah Anda merasa bahwa Allah sedang menghukum Anda melalui cobaan-cobaan-Nya? Mungkin saat itu Anda merasa tengah dalam kondisi yang paling lemah, serasa tak ada bantuan yang bisa diandalkan untuk jadi sandaran, tempat berbagi, apalagi untuk meminta bantuan.

Hal itu kerap terjadi pada manusia. Manusia memang selayaknya merasakan semua manis dan getirnya hidup. Karena dengan jalan itulah manusia diberikan pelajaran untuk menghadapi hidupnya yang penuh tantangan yang diberikan Allah SWT agar kita bersiap untuk menghadapi tantangan sebenarnya di akhirat kelak.

Menjadi manusia memang tak mudah, tapi ingatlah satu hal: “Allah tak akan memberikan sebuah beban yang takkan sanggup ditanggung melebihi kekuatan umat-Nya.” Senada dengan hal itu, ada ungkapan: “Di balik semua hal yang terjadi, pasti tersimpan sebuah hikmah.” Dan kedua pernyataan tersebut selaras bagi tokoh utama dalam novel Kabar Bunga karangan Marsiraji Thahir, yang telah menerbitkan buku dan beberapa serial komik bernapaskan Islam ini.

Novel ini menceritakan tentang perjuangan tiga perempuan yang terpisah ruang dan waktu karena nasib. Perjuangan ketiganya dinarasikan melalui narasi yang berbeda-beda. Wulan, seorang gadis desa yang berangkat ke kota untuk mencari penghidupan agar keluarganya terbebas dari kemelaratan. Dengan meninggalkan sang ayah, dan adik tercinta (walau pada akhirnya kedua anggota keluarganya itu sebenarnya tak memiliki jalinan darah dengan Wulan), Wulan nekat menjadi pembantu di kota besar, Jakarta.

Kedatangannya ke Jakarta tak semudah yang ia bayangkan. Ia harus berjuang menemukan tempat ia akan bekerja, tapi malah terdampar di sebuah rumah di lokalisasi pelacuran yang malah membuatnya tertangkap pihak keamanan.

Dari tempat itulah “kisah” dimulai. Di desa yang ia tinggalkan, sibuk beredar berita “tertangkapnya” Wulan karena melacur di Jakarta. Berita palsu yang membuat masyarakat Desa Kendal tempat Wulan dikenal dengan kesalihahannya, menjadi kampung membenci Wulan dan keluarganya yang dianggap pembawa sial. Hal itu pula yang membuat Ratih, adik Wulan, menjadi antipati terhadap kakaknya yang selalu jadi panutan karena tak adanya figur ibu di keluarga itu.

Wulan tak pernah tahu kalau beritanya tersebut masuk televisi dan mengakibatkan kekacauan separah itu. Selepas dari tahanan, ia masuk rumah rehabilitasi di mana ia dihadapkan pada godaan dan ujian pemurtadan. Beruntung ia selamat dan dapat kabur dari semua penderitaan itu. Dan sekaburnya ia dari rumah rehabilitasi, ia sengaja dipertemukan Allah dengan seorang anak (Sapto) yang sebenarnya adalah keponakannya sendiri dari adik seibu yang tak pernah ia kenal seumur hidup, Asih.

Pertemuannya dengan Sapto mengantarkannya pada Siska yang berniat baik menolong Sapto dan Wulan, padahal di balik itu tersimpan muslihat licik yang siap memagut Wulan dari belakang. Namun Allah memang Maha Pengasih bagi hamba-Nya yang selalu bertawakal. Wulan selamat dari jerat Siska, dan malah mempertemukannya dengan sang Asih, ibunya Sapto. Tapi, dari Siska pula Wulan diberkahi jabatan wakil direktur sebuah perusahaan kerajinan tangan. Dalam perjalanan menjadi seorang wakil direktur, Wulan bertemu dengan Sabrina yang ternyata saudara kembarnya.

Dahulu mereka terpaksa diasuhkan oleh ibunya pada orang yang berbeda. Wulan pada Pak Handoko (ayah Ratih), dan Sabrina pada Bu Nency. Tak ada yang tahu ceritanya bagaimana Sabrina sampai di tangan Bu Nency yang sama sekali tak bisa membesarkan anak dengan cara yang baik. Dengan kekuasaan Yang Maha Kuasa, Sabrina tak seperti ibu angkatnya, dia lebih dekat pada Sang Pencipta sehingga hatinya dipenuhi kesabaran akan cobaan yang menerpanya.

Sabrina pun menikah dengan Anton yang memiliki masa lalu kelam. Namun, Anton sudah sepenuhnya berubah, walau kadang hatinya tak bisa berkata jujur pada istrinya akan masa lalunya. Ia lebih banyak menyimpan kenangan buruknya di hati saja, termasuk hubungannya dengan Asih yang menghasilkan seorang anak, Sapto.

Asih memang bisa membesarkan Sapto seorang diri tanpa bantuan Anton (tanpa ikatan pernikahan), namun sebenarnya Asih sangat mengharapkan uluran kasih Anton agar bertanggung jawab atas perbuatannya semasa Asih menjadi penjual diri. Kini Asih yang memiliki cinta pada sang tetangga, Sugeng, yang belakangan diketahui bahwa adalah laki-laki yang telah melukai ibunya Asih semasa di kampong, ayah dari si kembar Wulan dan Sabrina.

Walau Sugeng telah sepenuhnya insaf, Ibu Siti (ibunya Asih) tak rela lelaki yang pernah mengkhianati cintanya itu menikahi anak gadisnya. Atas penolakan Ibu Siti, Sugeng kembali ke dunia hitam yang dulu pernah digelutinya.

Akhir cerita pasti dapat ditebak oleh pembaca karena memang sedari awal semua tokoh dibuat sengsara, terutama Wulan yang harus menghadapi cobaan bertubi-tubi dari tempat pelacuran, di rumah rehabilitasi, saat bertemu Siska, bahkan saat ia akan kembali pulang ke kampung halamannya. Semua ia hadapi dengan memohon bantuan pada Sang Khalik. Begitu konsistennya hati Wulan dalam menentukan pilihan, membuat ia selalu selamat dari tangan-tangan kedzaliman. Begitu pula dengan Sabrina. Ia awalnya dibuat menderita oleh perlakuan ibunya yang lebih mementingkan harta, kehilangan nyawa bayinya di tangan ayah kandungnya sendiri, dan kehilangan lain yang lebih besar. Tak lupa Asih yang sedari remaja harus mengalami siksaan pahit dengan menjadi budak ibunya sendiri. Ia dipaksa menjajakan diri pada lelaki hidung belang, sampai akhirnya tak ada jalan lain selain melacurkan diri tatkala kebutuhan hidup mulai mencekiknya.

Semua jawaban dari permasalahan ketiga perempuan itu adalah satu: ibu! Dari ibu, mereka mendapat siksaan, penderitaan, dan cobaan. Namun dari ibu pula mereka akhirnya mendapat kehangatan dan kebahagiaan yang selama ini mereka cari.

Membaca karya Marsiraji Thahir yang satu ini serasa membaca kisah nyata yang penuh dengan keajaiban. Persis pada sinetron atau film yang tokohnya banyak tapi saling berkait satu sama lain. Mengingatkan peresensi pada novel The Hours (Michael Cunningham, 1998) dan filmnya dengan judul sama The Hours (Stephen Daldry, 2003) yang menceritakan tiga wanita di tempat dan era yang berbeda pula, dengan satu benang merah, buku Mrs Dalloway karangan Virginia Woolf.

Dengan cara yang manis dan penuh untaian mutiara kata yang indah, Marsiraji Thahir, menuangkan segala kebolehannya mengolah kata-kata biasa jadi luar biasa. Kerena memang Marsiraji adalah seorang yang produktif menulis prosa dan puisi, maka tak aneh ketika kita membaca keseluruhan isi novel ini dengan bibir berdecak. Kagum atas usahanya menciptakan berbagai alegori atau kiasan, penggunaan eufemisme yang pas di bagian yang agak tabu untuk dijelaskan dengan kata-kata gamblang, dan hiperbola yang justru menambah efek dahsyat pada emosi jiwa yang dialami seorang tokoh.

Simak kutipan berikut ini: Suara jangkrik dan hembusan angin yang menerpa dedaunan di kanan-kiri villa itu seperti menelurkan kesunyian demi kesunyian. Kemudian detak jam mengiringinya. Memperdengarkan detik demi detik yang berjalan. (hlm. 287) Begitu kuatnya keinginan penulis untuk menggambarkan keadaan sepi yang ada di salah satu setting cerita.

Dengan alur yang maju mundur dan gaya bahasa bak puisi itu, pengarang bisa disebut berhasil. Namun penggunaan majas yang di sana-sini malah membuat pembaca merasa gemas karena cerita sulit beranjak. Penulis malah sibuk dengan urusan penggambaran suara hati yang berlebihan.

Dari segi tata bahasa, tak ada yang bisa disebut kurang karena memang sudah seharusnya seorang penulis novel menguasai kaidah kebahasaan yang dipadankan dengan kesusastraan. Bahasa sederhana dengan sedikit aura kedaerahan yang terbawa tak terlalu mengganggu pembaca sehingga mudah dipahami. Di luar itu, ada sebuah diksi (ditulis beberapa kali) yang dirasa aneh dan tak terlalu populer, “tutupan”, untuk menggambarkan sebuah rumah yang pintunya tertutup. Padahal penulis bisa saja menyebut “Rumah itu tertutup” alih-alih “Rumah itu tutupan”. Dan pabila ada kesalahan ketik atau salah penggal suku kata di akhir baris, itu merupakan kesalahan yang bisa ditoleransi karena sedikit jumlahnya.

Yang tak biasa dari cerita Kabar Bunga adalah sudut pandang yang dipilih oleh penulis. Memang penulis memilih point of view dengan penutur orang pertama, “saya” atau “aku”. Namun di lain kesempatan, si tokoh yang meng”aku”kan diri itu berubah menjadi orang ketiga, dengan dibuat menjadi “dia” atau “-nya”. Sungguh sebuah kotidakkonsistenan. Pada cuplikan di halaman kover depan dan belakang memang disebutkan bahwa novel ini memiliki tiga narasi, tapi pada kenyataannya ada banyak narator yang membuatnya jadi “pemilik” point of view.

Adapun tema yang menjadi garis besar dari buku ini adalah mengenai keimanan dan ketakwaan sorang hamba pada Tuhannya. Semua tokoh mengalami ujian yang menghadapkannya pada beberapa pilihan. Tentu saja pilihan yang diambil tak selalu baik bagi para tokoh itu sendiri maupun bagi tokoh lain yang berhubungan dengannya. Dan itu menjadi pembelajaran bagi para pembacanya.

Bagi tokoh yang mengambil jalan aman dan selalu istikamah di jalan-Nya, selalu mengingat-Nya di segala kesempatan, maka ia akan mendapat keselamatan dan kebaikan di akhir masa. Sebaliknya, bagi pengambil jalan kesesatan, tak usah menunggu di akhirat, di dunia pun sudah tersiksa lahir batin. Dan itulah yang terjadi pada tokoh dalam novel ini. Karakter protagonis dimiliki ketiga tokoh utama, Wulan, Sabrina, dan Asih, serta beberapa tokoh pendukung lain seperti Pak Handoko, Pak Salimin, dan Bi Ranti. Sedangkan karakter antagonis ada pada tokoh Sugeng, Mamat, Pak Junjung, dan bebeberapa lainnya berubah-ubah sifat sesuai dengan kondisi yang tengah dihadapinya.

Tak peduli walalu masalah itu menyangkut nyawa, sepatutnya semua urusan diserahkan pada Sang Pemilik Segalanya, Allah SWT. Dan tindakan bijaksana yang menjadi cerminan utama dari amanat serta pesan moral ini ada pada kutipan yang diucapkan oleh Pak Handoko (hlm. 54) berikut ini:

“…Allah lebih tau, Tih. Pasti Allah sedang merencanakan sesuatu untuk kita, Kamu harus yakin itu, Tih. Kita tidak usah khawatir, meski kita tidak punya cukup uang, tapi kita masih punya iman. Hanya itu kekuatan kita. Hanya karena itu yang akan membuat kita menang!”




No Comments so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>