Heldani, Erik


WTS Virgin, Serabinya Hangat
July 14, 2009, 11:05 am
Filed under: Real Life, Serius

Hari masih gelap, dingin, dan berkabut, namun saya tak kuasa menahan hasrat untuk mencari kehangatan WTS di subuh itu. Oh, tenang…bukan WTS-nya Wanita Tuna Susila, melainkan Wanita Tukang Serabi.

Ya, kue serabi. Penganan asli Indonesia ini memang tak diketahui asal daerah pencetusnya, namun saya berani menjamin bahwa serabi ini berasal dari Tanah Priangan. Terbukti di daerah Cisalak, Kabupaten Subang, Jawa Barat, ada banyak penjual serabi di pinggir jalan setiap paginya. Bayangkan, dalam radius 500 meter ada empat WTS yang standby di pinggiran jalan.

Ujaaang, kadieu geura...nyorabi heula yuuuu...

Ujaaang, kadieu geura...nyorabi heula yuuuu...

Di desa yang terletak 30 km dari pusat Kabupaten Subang ini, para WTS memiliki spot masing-masing dalam menggaet pelanggan. Yang ada di sebelah selatan, pelanggannya adalah ibu-ibu dan petani yang akan berangkat ke sawah. Di sebelah utara, pelanggannya adalah para tukang ojek dan masyarakat yang hidupnya di sekitar pasar dan terminal. Di pusat desa, pelanggannya hanya orang-orang lewat saja. Dan di sebelah barat, tempat langganan saya, pelanggannya adalah kaum santri dan agamawan yang pagi harinya dihabiskan untuk bersantai sebelum menuntut ilmu agama.

Para penjual serabi yang rata-rata berusia paruh baya itu telah memulai usahanya sejak dulu. Sejak saya masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak pun sering kali dibekali makanan berbahan dasar tepung beras dan santan kelapa ini. Dan di daerah tempat saya dibesarkan ini, serabi dilafalkan “sorabi”. Mungkin atas dasar inilah semua orang yang mengenalnya sepakat menamai “serabi” agar lebih Indonesia.

Dahulu, serabi hanya dikenal memiliki dua rasa saja, yaitu orisinal (polos) dan spesial (pakai telur).

siap dibantai...

siap dibantai...

Dan di daerah lain mungkin hanya dikenal satu rasa polos dengan saus kinca (gula merah).

Dalam perkembangannya, serabi berevolusi menjadi makana transmodern karena penganan tradisional ini mengalami perubahan rasa, varian, dan bahkan proses pembuatannya menjadi lebih modern tapi tetap bernuansa tradisional. Namun sesuai dengan permintaan masyarakat, rasa sang kue berongga ini bertambah, ada yang bercita rasa tetap asin seperti memakai kornet, keju, suiran daging ayam, sosis, dan ada pula yang memvariasikan isian manis, seperti berbagai macam selai, cokelat, cappuchino, dan lain sebagainya. Dan serabi yang rasanya macam-macam itu sekarang kita kenal dengan nama Serabi Bandung karena mungkin di Bandung-lah pertama kali serabi dimodivikasi.

Akan tetapi, pagi itu saya mencari WTS yang masih virgin, alias serabinya masih original. Dan kebetulan sekali, di Desa Cisalak itu tak ada serabi yang “macam-macam”. Hanya ada serabi putih polos dan serabi spesial pakai telur. Telurnya bisa dari sang WTS, bisa juga kita bawa sendiri dari rumah. Telur yang dibawa sendiri dari rumah tentu saja boleh telur apa saja, telur puyuh, ayam kampung, ayam negeri, bahkan telur itik dan angsa pun boleh-boleh saja, asal masih mentah dan tidak kacingcalang (Sunda: telur busuk).

Fla-nya pun bukan dari kinca gula merah, namun sambal oncom yang pedas eksotis yang bisa dicocol-cocol dicoel-coel di atas piring.

cocol-cocol...coel-coel...ammmmm...yummy...

cocol-cocol...coel-coel...ammmmm...yummy...

Sebagai pelengkap, ada rempeyek dengan taburan kacang atau ebi. Krenyes-kreyes gimanaaa gitu… Makin gurih saja lah sajian serabi asli di pagi buta itu.

Serabi spesial pakai telur plus sambal oncom yang eksotis

Serabi spesial pakai telur plus sambal oncom yang eksotis

Eitssss…. tak hanya serabinya saja yang masih asli, proses pembuatannya pun masih sangat tradisional. Di saat WTS yang lain menggunakan cetakan logam dan sudah pindah ke kompor minyak tanah (bahkan ada yang sudah mulai menggunakan gas sebagai kempensasi konversi minyak tanah ke gas), Bi (lupa lagi namanya) tetap setia menggunakan cetakan tanah liat dan kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Dengan menggunakan tungku kayu bakar dan periuk cetakan dari tanah liat, membuat rasa dari serabi yang saya santap menjadi sangat sentimental.

uuuh sedapnya serabi telur ini...

uuuh sedapnya serabi telur ini...

Tak terasa, satu serabi spesial, tiga serabi polos, dan tiga rempeyek kacang habis saya lahap. Maklumlah, jarang sekali mendapat kesempatan memakan camilan mengenyangkan ini kalau tidak sedang pulang ke kampung halaman. Kehangatan yang saya dambakan pun menjadi dobel. Ya hangat serabinya, ya hangat karena sideang (Sunda: berdiang) di depan tungkunya.

sideang-sideang...sambil menunggu serabinya matang...

sideang-sideang...sambil menunggu serabinya matang...




No Comments so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>