Filed under: Serius
KOTA hujan. Begitu julukan bagi Kota Bogor. Cuaca sejuk kerap menyelubungi daerah dengan ketinggian 190-330 meter di atas permukaan laut ini. Termasuk pada Mei ini. Meskipun musim kemarau, hujan tetap turun. Hmm….. dingin-dingin begini ada tempat nongkrong yang asik di Jalan Pangrango. Tepatnya, di PIA Apple-Pie.
Saya sering mendengar nama ini. Cukup terkenal. Namun, baru kali pertama datang ke sini. Tempatnya tak terlalu besar. Berhalamanan tempat parkir untuk dua mobil dan beberapa motor. Beberapa mobil dan motor banyak parkir di jalan.
“Para pelanggan kebanyakan berasal dari Jakarta,” kata Wiwin, Suvervisor PIA Apple-Pie.
PIA Apple-Pie yang digawangi Ibu Baby ini mencoba memanfaatkan taman depan sebagai penenang jiwa. Ada sumur dangkal dengan beberapa ikan hias air tawar berwarna-warni, bisa diciduk tangan. Juga ada kubangan di sisi kiri taman yang lebih mendekati bentuk kolam dengan ikan nila hias berukuran telapak tangan orang dewasa.
“Akang-akang selamat datang” (dormen) pun menyambut hangat tatkala kaki ini melangkah menuju kawasan berhiaskan hawu (bahasa Sunda: tungku tradisional) di kiri-kanan pintu gerbangnya. Tak tahu untuk memasak apa hawu itu disimpan di luar. Oleh si “akang selamat datang”, kami digiring menuju tempat duduk yang bebas memilih sendiri. Ada meja dengan tempat duduk biasa. Ada yang lesehan. Kami pilih lesehan agar terasa lebih Sunda, berkebalikan dengan makanan yang kami santap, pie apel dari Eropa.
Kesundaan tempat ini memang tak begitu terasa andai Wiwin tak memberitahu ada menu minuman bajigur di situ. Ini terlihat dari kepulan asap hitam yang menggosongkan dandang pemanas bajigur. Ternyata tak hanya bajigur yang asli Sunda. Ada pula bandrek apel sebagai penghangat cuaca dingin. Namun, bajigur dan bandrek di PIA Apple-Pie bisa dinikmati mulai sore hari.
Jika menyantap di tempat, dijamin kerenyahan crust penutup pie-nya kerenyes-kerenyes. Apalagi isian apel bagian dalam begitu lembut. Rasa asam-manis pas, dan bikin ketagihan. Bagi saya, saat menikmati di rumah, pie terasa tambah yummy. Ternyata crust yang sudah tak renyah malah membuatnya lebih perfect!
Bosan dengan rasa asam dari kue asal Eropa ini, saya putuskan menikmati sentuhan lembut puding karamel. Rasanya memang tak terlalu manis, tapi terasa pas dengan balutan fla yang tak kalah lembutnya.
Selain pie apel, ada banyak pilihan pie untuk dinikmati. Antara lain, chicken pie, chocolate pie, strawberry pie, cheese pie, serta menu terbaru: black russian pie, black chocolate pie, dan black coffee pie. Masing-masing pie memiliki ukuran small, medium, dan large. Bentuknya pun ada yang oval, love, dan jajar genjang (khusus black pie). Ada pula crust (kulit pie) tanpa isi bagi pencinta camilan garing dengan taburan kenari, keju, apel, dan kismis.
PIA Apple-Pie yang sudah buka sejak sembilan tahun lalu itu tak hanya andalkan pie. Juga menghadirkan salad apel, ala mode, nasi goreng apel, spageti saus apel, pisang bakar, poffertjes, yoghurt, dan sup. Ada pula camilan macam katimus dan combro. Benar-benar Eropa yang sangat Sunda! Erik Heldani
dimuat di harian JURNAL NASIONAL, Sabtu, 23 Mei 2009
No Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



