Filed under: Jurnal
Pasti di antara kalian ada yang bertanya-tanya dalam hati, “Ngapain sih melihara binatang menjijikan kaya gitu?”
Hmm, pertamanya sih gw juga merasa jijik dengan binatang yang satu itu. Ulat, iiiihhhh, pasti bikin gatal deh di kulit ini. Eits, tunggu dulu. Ternyata ga semua ulat menimbulkan gatal-gatal pada kulit kita. Sepengetahuan gw sih cuma ulat berbulu aja yang menimbulkan gatal-gatal, kalau yang ga berbulu sih dijamin aman. Buktinya gw ga ada masalah nih setelah menyentuh-nyentuh mereka.
Alkisah dua minggu yang lalu, gw sempat terkaget-kaget dengan menghilangnya daun-daun yang ada di sebuah pot adenium di rumah tante gw. Ow, ternyata eh ternyata ada ulat di batangnya. Dengan lahap. sang ulat menggerogoti selembar daun terakhir yang tersisa di pohon itu. Di bawahnya, sudah berserakan banyak pup sang ulat. Ih jijiknya!
Tak puas telah menemukan dua ulat, gw lalu berkeliling taman adenium di lantai dua rumah tante gw itu. Owwww, di ujung sana ternyata ada juga adenium yang gundul. Sama sekali gaada daunnya. Eh, ada deng. Masih ada dua daun yang tersisa. Kedua daun itu tengah digerogoti masing-masing oleh seekor ulat. Yang satu aga besar (sebesar telunjuk orang dewasa) dan satunya lagi sebesar kelingking orang dewasa.
Dengan banyak pikir, gw putuskan untuk membunuhnya, tapi tak tahu harus dengan cara apa membunuh keempat makhluk menyeramkan itu.
5 menit berlalu, cutter sudah di tangan. Tangan ini sudah siap untuk memotong. Hahahaha…Kejam sekali yah kedengarannya? Hahahaha….
Lalu…. Sret, sret, sret…
Empat tangkai adenium pun gw potong, tepat beberapa senti di bawah si ulat bertengger. Untungla ulatnya bukan ulat bulu atau ulat jengkal yang larinya cepet banget.
Si ulat kayanya pemalu deh, pokonya tiap kena gerakan yang asing, dia langsung diam tak bergerak.
Karena bingung mau diapakan, maka di bunuh dengan cutter itu pun urung gw lakukan. Oh iya, saya bawa aja mereka ke kamar mandi. Bukan untuk dimandikan, tapi saya masukkan ke kloset, dan….flush…..
Mereka pun tenggelam dibawa arus toilet…..
Dua minggu kemudian, di tempat yang tak jauh dari tempat gw temukan pertama kali keempat ulat itu, gw temukan lagi tiga ulat yang sama menjijikannya. Akan tetapi, rasa kasihan ini lebih menggelora, mengalahkan rasa jijik dan geram pada ketiga makhluk rapuh itu.
Setelah berpikir panjang lebar, maka gw putuskan untuk memeliharanya saja. Ya, MEMELIHARANYA!
Gw ingat, saudara sepupu gw punya pet box
bekas dia pelihara ular. Nah, kayanya ularnya sudah gaada, maka gw pinjam saja boxnya. Pada mereka gw udah bilang mau pelihara ulat, tapi mereka ga percaya.
Dan sesampainya di tempat si ulat, gw laksanakan aksi menyelamatkan mereka. Hahaha…. mulai saat itu, gw punya binatang peliharaan baru. Mereka adalah Warmon si pemberontak, Wermon si tukang ee, dan Wormon si ulat sejati.
Kini, mereka sudah tak berwarna oranye muda lagi seperti saat pertama gw temukan mereka. Mereka sudah berubah hampir menjadi sempurna. Dengan punggung yang sudah menghitam dan kaki-kaki keci mereka sudah hilang menyatu dengan tubuhnya, pertanda babak baru akan segera mereka lalui.
Si Warmon yang pemberontak, sudah berubah satu langkah di atas Wermon dan Wormon.
Warmon telah menjadi kepompong muda.
Belum sepenuhnya menjadi kepompong karena kalo dipegang masih bergerak-gerak. Lain halnya dengan Wermon
dan Wormon
yang baru kehilangan kaki-kaki kecilnya.
Tak sabar ingin segera melihat mereka berubah.
Akan seperti apa mereka nantinya? Apakah jadi kupu-kupu yang lucu???
SEMOGA!!!
No Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>