Jodohku Rp 450 ribu
February 24, 2008, 8:59 am
Filed under:
Real Life
Ini adalah kisah di balik serunya “CIUMAN PERTAMA” gw pada 14 Februari 2008.
Kisah “Ciuman Pertama” gw baca aja di blog COKELAT ASIN. Hehe…padahal di blog itu “ciumannya” cuma tersirat aja ko.
Begini,,,,,
Kucing gw, si Chibi udah beberapa hari dalam bulan Desember 2007 terlihat sedang bergairah. Di malam hari, dia ribut mengeong-ngeong minta kawin. Walhasil, kucing-kucingĀ jantan tetangga pada adteng buat “ngedate” sama Chibi.
Tentu saja kehadiran kucing-kucing jantan itu mengganggu stabilitas kehidupan gw dan orang-orang di rumah. Kami, sepakat bahwa “suami” Chibi haruslah dari “kalangan yang baik” pula. Kalau bisa sih lebih tinggi dari Chibi. Maklumlah, Chibi kan kucing semi Persia. Pengennya sih “suami” dan anak-anaknya Chibi berdarah Persia juga.
Aduh, ternyat walau sudah diusir-usir, disiram, dilempar pake sendal berhak tinggi, dan lain sebagainya, si kucing-kucing kampung kekeuh datang ke rumah. Di antara semua kucing kampung yang datang, ada tuh yang lumayan bersih dan cukup ganteng untuk ukuran kucing. Tapi, seganteng apa pun, tetep aja namanya kucing kampung. Katanya, kucing kampung itu gen-nya kuat banget. Kalo kucing kampung jantan kawin sama kucing Persia betina, katanya anak-anaknya bakal lebih dominan ke bapaknya.
Bagi si Chibi, ih amit-amit. Jangan sampe deh!
Nah, daripada kebablasan dan malah “diperkosa” kucing kampung, karena tampaknya hubungan mereka semakin akrab saja (bahkan si Bibi pembokat di rumah pernah memeregoki mereka sedang “….” WAAAAAHHHHHHHHh TIDAAAAAAAAAk, gw ga percaya omongannya si Bibi), gw ajak Chibi menemui dokter hewan aja. Di sana dia bakal dijodohkan dengan pejantan tangguh asal Persia juga.
Wah, ternyata “suaminya” Chibi itu ganteng banget. Tinggi besar, udah gitu bulunya PUTIH bersih, lebat, peke nose, di jidatnya ada spread warna hitam (bukan black spot loh, cuma spread sedikit). Pokonya dia mirip si Maru deh.
Tiap hari, gw telepon si dokter, menanyakan perkembangan keadaan mereka. Apakah Chibi sudah berhasil di”ehem-ehem” atau belum?
Pokonya gitu-gitu aja yang gw tanyakan ke dokternya.
Hehe, selain menghawatirkan keadaan si Chibi, gw tentu saja mengkhawatirkan keadaan domper gw yang … maklumlah, belum kerja.
Bayangin aja, sehari “nitip” Chibi di rumah dokter tuh harganya Rp 100 ribu, dan minimal titipin selama 3 hari. Totalnya minimal gw harus sediakn uang Rp 300 ribu.
Cekak deh gw!
Nah, kalo kucing yang dititipin belum berhasil di”ehem-ehem” sama jantannya, maka mau-tidak mau harus ada perpanjangan waktu alias nambah waktu lagi buat nginep si Chibi.
Fuih, Nginepnya aja sampe 3 hari, dan ternyata tambahannya juga 3 hari. Untunglah, 3 hari selanjutnya itu hanya dihitung setengah harga, alis cuma Rp 50 ribu aja.
Tapi tetep aja jatuhnya mahal banget. Eh, totalnya adalah Rp 450 ribu.
Wah, Chibi emang kucing yang elite, royal banget, biaya buat kawin aja habiskan Rp 450 ribu.
Nah, dua bulan kemudian, alias tanggal 14 Februari 2008, saatnya penentuan.
Bagaimanakah “rupa” bayi-bayinya Chibi?
Apakah mirip si Chibi, Brown Tortie?
Ataukah mirip suaminya (pejantan dari dokter) Chibi, Putih?
ATAU malah mirip tetangga sebelah, warna ga jelas?
Ternyataaaaaaa……
Salah satunya ada yang berwarna “GARFIELD”.
Hm, dari mana yah asalnya dia?
Apakah dari Rp 450 ribu itu?
Atau dari sebelah?
Au ah………..
Coklat ASIN
February 16, 2008, 3:10 am
Filed under:
Real Life
Udah pernah makan coklat yang rasanya asin?
pasti belum. Gw juga belum pernah.
Tapi kalo coba sesuatu yang “asin” di “hari coklat” sih gw juaranya.
Gini ceritanya………….
Kisahnya dimulai dari “hari coklat” yang orang lain sebut sebagai “valentine’s day”. Hari di mana orang2 pada sibuk bagi2 coklat ke orang yang dikasihinya. Gw sih ga pernah anggap hari itu ada. Trus ada juga yang bilang hari itu adalah “hari kasih sayang”. Dan sebagai bentuk kasih sayang, diberikanlah coklat pada orang atau orang-orang (sebagai simbol sih). Nah, kalo hari itu hari kasih sayang, trus hari lain itu ga berkasih sayang dong? Ga bisa bagi2 coklat di hari lain dong?!
Maka dari itu, gw anggap aja hari itu sebagai “hari coklat”. Daripada ngerayain “hari valentine” padahal kita gatau siapa valentine itu, mendingan kita anggap hari itu sebagai “hari coklat”. Semua orang udah pada tau kan sama COKLAT. Nah, kayanya kalo menjadikan hari itu sebagai Hari Coklat ga ada salahnya deh. Coklat kan cuma makanan. Coklat kan ga bakal marah atau protes kalau dia dibikinin hari spesial. Mungkin kalo dia tuh bisa ngomong, dia bakal seneng banget. “ASA DIULANGTAUNKEUN!”
14 Februari 2008, di saat gw “harus” makan coklat, gw malah masukin sesuatu yang “asin” ke mulut gw. Mending kalo asinnya asin rasa dari makanan yang gurih. Ih, ini mah sesuatu yang ….. ueeeks, jijay.
Bukan air laut.
Bukan air mata.
Bukan ingus.
Bukan congek.
(emang ada yang udah pernah coba dan tau rasa congek atau kotoran kuping? gimana rasanya?)
Something salty itu adalah….JRENG JRENG JRENG…..
AIR KETUBAN
kebaca ga?
AIR KETUBAN
hah, ga kebaca juga?
AIR KETUBAN. Ya, AIR KETUBAN KUCING.
Hiiiiiiiiiiii, joroooook!
Gini ceritanya:
13 Februari 2008, hari Rabu tuh, gw masuk kerja seperti biasa. Biasanya gw pulang jam 12an malem. Ya hari itu gw juga pulang seperti biasa. Jam 12 malem.
Nyampe rumah ga langsung tidur dong, makan dulu, mandi dulu (hehe, kalo udah kemaleman sih jarang mandi jam segitu), sholat tahajjud dulu (cieee sok rajin). Nah, pas mau tidur kan udah lewat jam 12 dong. Udah tanggal 14 Februari dong.
“Harus”nya gw awali hari itu dengan makan coklat, tapi mana keingetan makan coklat udah malem buta gitu. Yang ada, gw gemeteran liat Si Chibi, kucing gw, diem terus di bawah (kolong) spring bed gw. diajak keluar ga mau. Dipaksa juga susah. Ya udah, gw bongkar aja tuh spring bed. Akhirnya Si Chibi keluar juga.
Ternyata, bulu2 sekitar pantatnya basah, oh, ketubannya udah pecah.
Yes, dia lagi hamil, dan usia kehamilannya udah dua bulan. Menurut kalkulator kucing sih, dia harusnya lahiran akhir pekan ini. Ternyata salah perhitungan. Kesalahan perhitungan ini akan dibahas di blog lainnya, Jodohku Rp 450 ribu.
Back to Chibi.
Setelah dia keluar dari kolong spring bed gw, dia langsung gw giring ke dus yang sengaja gw sediakan khusus untuk tempat lahirannya dia. Lengkap dengan berlembar2 kertas koran.
Waduh, di pantatnya ada gumpalan darah dan segelembung ketuban yang membungkus bayi kucing. Wah, untung gw belum terlambat. Langsung deh Si Chibi gw suruh rileks, tarik napas, ngeden, tarik napas lagi, ngeden lagi. Wah, persis kaya adegan di serial Desperate Housewifes season 3, pas si Chiao Mei mau lahirkan bayi tabungnya pasangan Gabriel & Carlos Solis aja. (udah pada nonton blm episode itu?)
Pas dia ngeden, gw ikut ngeden juga. Ngggggggggeh, hah, hah, hah, ngeden lagi…Ngggggggeh, hah, hah, hah, ngeden lagi…Nggggggggeh, hah, hah, hah. Cape ah. Gitu kata Si Chibi, eh, kata gw juga.
Gitu gitu terus selama satu jam. Aduh, dah jam berapa tuh. Ada kali jam 2. Si Gilang (di belakang gw) ga bantuin liatin jam sih. Dia malah asyik sms-an sama pacarnya di kamar gw. Tapi dia bantuin gw siapin air panas, ambilin tissue, sterilkan alat2 bedah, pokonya lumayan bantuin lah. Tapi dia juga mulai kecapean karena bayinya ga keluar2.
Eh eh, dia ngeden lagi tuh. Kali ini sukses ngedennya. Ngggggggggggggggggggggggeh……..HAH HAH HAH, yeahhhhh keluar juga.
Aduh bingung nih. Gimanain nih bayi? O iya, gw kan udah baca2 tentang tata cara prosesi bidanin kucing persia di milis Kucingkita.com.
Gunting tali ari-arinya, iket pake benang yang udah steril, olesi dengan betadine, bersihkan badannya pake lap. Pokonya tahapan kaya bidanin bayi orang deh.
TAPIIIIII
ada bagian paling “SPECIAL” dan bagian ini harus pake “SPECIAL EFEK” pula. Berhubung gw belum sempet beli penyedot lendir, maka…. gw gunakan mulut gw yang masih “VIRGIN” ini untuk menghisap lendir yang menutupi hidung dan mulut bayi kucing yang baru keluar.
SROTTT, SROTTT, SROTTT,
Puih, cuah, spbrlmpsblpslm, cuih. AAAASSSIIIIINNNNN!!!!
Kirain rasanya bakal kaya apa. Ternyata AAAASSSIIIIINNNNN.
Hehe, lega rasanya liat si bayi no.1 udah bisa napas dengan semestinya. Tapi, gw liat di belakang gw, si Gilang malah ngumpet, menyembunyikan kejijian yang telah gw lakukan. Gw yang lakukan, ko dia yang mo muntah.
Hehe, pas bayi ke tiga keluar, dan gw harus sedot lendir ketuban untuk kali ketiga, gw jadi enegk, dan sempet…ueghks…. Hampir muntah. Tapi gw kuat2in.
Total sedot-menyedot, EMPAT KALI.
14 Februari 2008 itu gw bukannya makan coklat empat batang, gw malah sedot ketuban empat kali.
Jadinya, Empat Coklat Asin!!!
Mau coba?
The Storm
The Storm
Every storm brings with it hope
That somehow by morning,
Everything will be made clean again.
And even the most troubling stains
Will have dissapeared.
Like the doubts over the innocence
Or the consequence of the mistake
Like the scars of the betrayal
Or the memory of the kiss
So, we wait for the storm to pass
Hoping for the best
Even though we know in our hearts
Some stains are so indelible.
Nothing can wash them away.
The Perfect Couple
The Perfect Couple
Have you met the perfect couple?
The two soul mates who loves never dies?
The two lovers who relationship is never threat end?
The husband and wife who trust each other completely?
If you haven’t met The Perfect Couple,
Let me introduce you!
They stand a top a layer of buttercream frosting.
The secret of their success?
well, for starters,
They don’t have to look at each other.
The dream becomes real
We dream of hope, we dream of change, of fire, of love, of death.
And then it happens.
The dream becomes real. And the answer to this quest.
This need to solve life’s mysteries finally shows it self.
Like the glowing light of a new dawn.
So much struggle for meaning, for purpose.
And in the end, we find it only in each other.
Our shared experience of the fantastic.
And the mundane. The simple human need to find a kindred to connect.
And to know in our hearts, that we are not alone.
In Loving Memory,
Mas Adi Sasmito (almarhum)
Dedicated to All My Friends
In this world, it’s hard to tell
who’s true and who’s not.
People may
be good at the beginning and be cruel
in the end.
If you are too trusting,
they’ll take advantage of you.
If they
know you’re weak, they’ll hurt you.
FRIENDS? What really is the meaning of
this seven letter word? What is the
deeper meaning of it? A friend is a
person that one likes, a person who
helps out or supports something or
someone who is on the same side.
Someone who is trusted!
Who is a real
friend? Can they easily be found?
Tell me, how to find a real friend?
Of all my
friends, who is the one that is always
at my side when I’m down?
Who is the
one who cares for me a lot?
Who is the
one that does not take advantage of
me?
ARE THEY REALLY MY TRUE FRIENDS?!
I DON’T KNOW!
I am sad, a feeling of
sadness, Yes! I know i have to accept
others for what they are and who they
are.
But please, accept me for who
I am. Erik is Erik, and you can’t
change him!
If you are a true friend,
you can understand attitudes of
others.
I know that God made us all
with different personalities! Why not
just accept others? ACCEPT
We must!
I am not perfect, no one is made
perfect. No one is made perfect. No one! I need a friend who is not
a friend only by words but by love and
feelings.
Friendship is not just beautiful
photos. It could fade.
It’s not too late to learn that!
Thank you, Wong!
Jakarta Banjir, Jakarta Terapung. Ga OKE!
February 1, 2008, 7:53 am
Filed under:
Real Life
Jakarta Banjir, Jakarta Terapung. OKE!
Huh, oke dari Hong Kong? Mana bisa oke kalau banjir cuma bisa bikin kita jadi bingung, susah, basah, dan telat sampai tempat kerja. (cieeeee yang udah punya kerja…)
Hari ini di Jakarta hujan turun tiada henti. Semenjak gue mau tidur (tadi malam), sampai bangun pagi-pagi (bangunnya kesiangan deng) itu yang namanya hujan…. hmm, busyet dah!
Walhasil, gue yang harusnya berangkat ke kantor jam 10, jadi agak telat. gue kira-kira baru bisa berangkat setengah jam dari waktu yang ditetapkan. Mmmmm, sebenarnya bukan hanya karena hujan yang membuat nyali gue jadi ciut, tapi kedua kucing gue yang kolokan minta disuapin dulu. Aduh-aduh, udah gede ko masih minta disuapin. Besok-besok makan sendiri ya, Chibi dan Maru!
Nah, sebelum cabut ke tempat kerja, (seperti biasa) gue harus isi perut dulu dong. Uh, hari ini sarapannya lumayan yummy. Ada Rendang AA (Ati-Ampela, tumisĀ JJ (Jamur-Jagung), Gorengan BT (Bakwan Tahu), dan sayur LL (Lalapan Labu).
Rasanya, Mak Nyosss!
Tak lupa gue bawa di lunch box untuk makan sore nanti.
Duh, buru-buru banget tuh, gue sampai bolak-balik nyari payung Channel, ga ketemu. Ya udah, gue pake payung Ungu aja. Eh, ujannya malah tampab deras aja tuh. Walhasil, celana gue lumayan basah.
Untungnya hari ini gw pake sendal jepit aja. Sepatunya ditinggal di kantor sih.
Di angkot, jalanan lumayan lancar.
Nah, pas mau naik TransJakarta (TJ), SHIT, awal dari kesialan…. Masa gue ditinggal pergi tuh TJ. Padahal gw dah siap loncatin tuh pintu. Dasar sial. TErpaksa deh gw harus tunggu TJ selanjutnya.
ding>
ding>
Lama banget!
Duh, mana ini hari Jumat pula. Kan gw harus tiba di masjid deket kantor jam 12. Kalo ngga, Jumatannya kesiangan deh. Fuih, untunglah si TJ dateng juga. Gw naik, tapi ga dapet duduk. Biarin deh, latihan kekuatan kaki (lagi). Nah, sesampainya di halte PGC, gw berinisiatif untuk turun dan naik TJ yang ga singgah di Kampung Melayu. Naiklah gue….
Cihuy, dapet duduk euy.
duduk
duduk
duduk
Udah pada tau kan, kalo gue keenakan duduk di bis? Yes, ngantuk, tidurlah gue!
Ketiduran deh.
Bablas deh.
Wah, parah.
Untungnya gue bangun pas di halte Matraman. Tapiiiiiii…..uuuh telat lagi. pintu keluar udah keburu ditutup.
Yah, terpaksa deh gue harus lanjut sampai halte Salemba UI.
Eh tunggu…..Ada keajaiban……
Atas permintaan dan doa gue yang tak henti-henti, (Ya Allah, mundurkanlah bis ini, dan bukalahpintu keluarnya, saya mau turun di sini aja, ya Allah, saya mau sholat Jumat di deket sini aja, ya Allah!)
Pasti pada ga percaya deh. Bis-nya bener-bener mundur. gue kira itu bis cuma iseng, eh taunya beneran niat tuh sopir bis.
Mundurlah itu TJ, dan ………..terbukalah wahai pintu!!!!!!!!!!!
WAh, ajaib, pintunya dibuka.
Tanpa basa basi, gw ngacir aja dari si TJ, dan langsung menuju tangga halte Matraman yang lumayan panjang dan berliku itu. Namun……
Oow, ada yang aneh di bawah sana (saat itu gw lagi terbang di atas Metraman). Ada nenek-nenek lagi berenang di perempatan lampu merah Matraman. Eh, busyet, ternyata dia lagi kesenengan ketemu air yang keruh itu.
BANJIR TAU!
Banjir-banjir ko malah berenang.
Gue gimana nih, Nek? Telat jumatan nih, udah jam 12.
Dengan berat hati, gw ngelamun di halte bersama ratusan orang yang kebingungan mencari jalan keluar atas permasalahan yang sangat pelik yang seringkali melanda masyarakat Jakarta yang homogen dan terdiri atas banyak karekter dari suku yang berbeda-beda serta kebiasaan lupa menutup kembali Zippernya setelah pipis.
_____=====_____Dengan penuh pertimbangan, gw beranikan diri untuk memberitahu seseorang yang mirip jenderal di kerajaan api (The Legend of Aang, The Last Air Bender) bahwa zippernya kebuka. Entah gue berhasil membuat dia tersadar, atau malah membuat gue disangka yang bukan-bukan. Bodo ah, gue niatnya menolong ko.______=====______
Ga ada jalan lain, selain keluar mencari masjid untuk sholat Jumat. Jalan deh gue di jalan yang digenangi air itu.
Kucluk-kucluk.
Kucluk-kucluk.
Kucluk-kucluk.
Hujan-tetaplah hujan, payung ungu ini pun tetaplah payung ungu. Kayanya mereka kerja masing-masing deh. Ga ada koorsinasinya pisan ih!
Alhamdulillah, gw sampai juga di masjid pas adzan. Alhamdulillah juga yang basah cuma celana bagian bawahnya saja. Lalu, gimana ceritanya nih gue bisa-bisanya menemukan masjid di tempat asing yang belum pernah gw sambangi sebelumnya?
Ada ceritanya….nanti lah di episode DISKON 30%
Selanjutnya, gw sholat Jumat dengan tenang.
Setelah menanjak kan pasti ada menurun, nah, setelah tenang-tenang sholat Jumat, barulah petualangan kembali dimulai. Di sana hujan, di sini hujan. Di sana macet, di sini juga macet. Gue mau lewat mana nih jalan ke kantor?
Ah, nekat aja jalan ke perempatan lagi. mungkin di sana banyak bis atau angkutan yang lebih nekat daripada gue.
Yah, kira-kira kurang lebih nunggu setengah jam (setelah menerjang banjir), gue akhirnya bisa naik Metromini. Wah, gatau deh bakal nyampe kantor atau ngga, yang penting gue naik aja.
Eh, ternyata, sesuai dugaan, Metromininya lewat jalan yang ga kena banjir, namun di saat ada harapan jalan lengang, ada yang menghadang. Huh, ada massa yang tak memperbolehkan mobil melewati jalan yang digenangi banjir yang tak terlalu parah itu.
Bingung lagi deh gue. Turun aja, atau kekeuh naik itu Metromini? Ah, karena kaki gue lecet karena pake sendal jepit, maka gw anteng aja duduk di Metromini itu. Lama banget sih, tapi apa boleh buat. Cape sih!
Petualangan selanjutnya benar-benar flat.Hanya macet yang menghadang. Gue cuma bisa tertawa dalam hati, “Wuahahahaha, bego banget sih orang-orang. Ga OKE tau ga?! Saat hujan gini ko malah jalan-jalan keliaran gini, jadi macet kan. Mendingan di rumah aja, adem, ga macet, bisa makan mie rebus.”
Nah, terus gue termasuk orang yang ikutan bego juga deh. Gue jadi ga OKE lagi deh. Gara-gara siapa coba?
GARA-GARA JAKARTA BANJIR, JAKARTA TERAPUNG. GA OKE!
(nyampe kantor jam 2 lebih)