Resensi Buku KABAR BUNGA
August 14, 2009, 6:57 pm
Filed under:
Serius

Judul: Kabar Bunga
Pengarang: Marsiraji Thahir
Penerbit: Qish-U (Pro-U Media)
Tahun terbit: 2008
Tebal: 492 halaman
Harga: Rp 44.000
Ganjaran Umat yang Sabar
Apakah Anda pernah mengalami ujian berat dalam hidup ini? Lalu, apakah Anda merasa bahwa Allah sedang menghukum Anda melalui cobaan-cobaan-Nya? Mungkin saat itu Anda merasa tengah dalam kondisi yang paling lemah, serasa tak ada bantuan yang bisa diandalkan untuk jadi sandaran, tempat berbagi, apalagi untuk meminta bantuan.
Hal itu kerap terjadi pada manusia. Manusia memang selayaknya merasakan semua manis dan getirnya hidup. Karena dengan jalan itulah manusia diberikan pelajaran untuk menghadapi hidupnya yang penuh tantangan yang diberikan Allah SWT agar kita bersiap untuk menghadapi tantangan sebenarnya di akhirat kelak.
Menjadi manusia memang tak mudah, tapi ingatlah satu hal: “Allah tak akan memberikan sebuah beban yang takkan sanggup ditanggung melebihi kekuatan umat-Nya.” Senada dengan hal itu, ada ungkapan: “Di balik semua hal yang terjadi, pasti tersimpan sebuah hikmah.” Dan kedua pernyataan tersebut selaras bagi tokoh utama dalam novel Kabar Bunga karangan Marsiraji Thahir, yang telah menerbitkan buku dan beberapa serial komik bernapaskan Islam ini.
Novel ini menceritakan tentang perjuangan tiga perempuan yang terpisah ruang dan waktu karena nasib. Perjuangan ketiganya dinarasikan melalui narasi yang berbeda-beda. Wulan, seorang gadis desa yang berangkat ke kota untuk mencari penghidupan agar keluarganya terbebas dari kemelaratan. Dengan meninggalkan sang ayah, dan adik tercinta (walau pada akhirnya kedua anggota keluarganya itu sebenarnya tak memiliki jalinan darah dengan Wulan), Wulan nekat menjadi pembantu di kota besar, Jakarta.
Kedatangannya ke Jakarta tak semudah yang ia bayangkan. Ia harus berjuang menemukan tempat ia akan bekerja, tapi malah terdampar di sebuah rumah di lokalisasi pelacuran yang malah membuatnya tertangkap pihak keamanan.
Dari tempat itulah “kisah” dimulai. Di desa yang ia tinggalkan, sibuk beredar berita “tertangkapnya” Wulan karena melacur di Jakarta. Berita palsu yang membuat masyarakat Desa Kendal tempat Wulan dikenal dengan kesalihahannya, menjadi kampung membenci Wulan dan keluarganya yang dianggap pembawa sial. Hal itu pula yang membuat Ratih, adik Wulan, menjadi antipati terhadap kakaknya yang selalu jadi panutan karena tak adanya figur ibu di keluarga itu.
Wulan tak pernah tahu kalau beritanya tersebut masuk televisi dan mengakibatkan kekacauan separah itu. Selepas dari tahanan, ia masuk rumah rehabilitasi di mana ia dihadapkan pada godaan dan ujian pemurtadan. Beruntung ia selamat dan dapat kabur dari semua penderitaan itu. Dan sekaburnya ia dari rumah rehabilitasi, ia sengaja dipertemukan Allah dengan seorang anak (Sapto) yang sebenarnya adalah keponakannya sendiri dari adik seibu yang tak pernah ia kenal seumur hidup, Asih.
Pertemuannya dengan Sapto mengantarkannya pada Siska yang berniat baik menolong Sapto dan Wulan, padahal di balik itu tersimpan muslihat licik yang siap memagut Wulan dari belakang. Namun Allah memang Maha Pengasih bagi hamba-Nya yang selalu bertawakal. Wulan selamat dari jerat Siska, dan malah mempertemukannya dengan sang Asih, ibunya Sapto. Tapi, dari Siska pula Wulan diberkahi jabatan wakil direktur sebuah perusahaan kerajinan tangan. Dalam perjalanan menjadi seorang wakil direktur, Wulan bertemu dengan Sabrina yang ternyata saudara kembarnya.
Dahulu mereka terpaksa diasuhkan oleh ibunya pada orang yang berbeda. Wulan pada Pak Handoko (ayah Ratih), dan Sabrina pada Bu Nency. Tak ada yang tahu ceritanya bagaimana Sabrina sampai di tangan Bu Nency yang sama sekali tak bisa membesarkan anak dengan cara yang baik. Dengan kekuasaan Yang Maha Kuasa, Sabrina tak seperti ibu angkatnya, dia lebih dekat pada Sang Pencipta sehingga hatinya dipenuhi kesabaran akan cobaan yang menerpanya.
Sabrina pun menikah dengan Anton yang memiliki masa lalu kelam. Namun, Anton sudah sepenuhnya berubah, walau kadang hatinya tak bisa berkata jujur pada istrinya akan masa lalunya. Ia lebih banyak menyimpan kenangan buruknya di hati saja, termasuk hubungannya dengan Asih yang menghasilkan seorang anak, Sapto.
Asih memang bisa membesarkan Sapto seorang diri tanpa bantuan Anton (tanpa ikatan pernikahan), namun sebenarnya Asih sangat mengharapkan uluran kasih Anton agar bertanggung jawab atas perbuatannya semasa Asih menjadi penjual diri. Kini Asih yang memiliki cinta pada sang tetangga, Sugeng, yang belakangan diketahui bahwa adalah laki-laki yang telah melukai ibunya Asih semasa di kampong, ayah dari si kembar Wulan dan Sabrina.
Walau Sugeng telah sepenuhnya insaf, Ibu Siti (ibunya Asih) tak rela lelaki yang pernah mengkhianati cintanya itu menikahi anak gadisnya. Atas penolakan Ibu Siti, Sugeng kembali ke dunia hitam yang dulu pernah digelutinya.
Akhir cerita pasti dapat ditebak oleh pembaca karena memang sedari awal semua tokoh dibuat sengsara, terutama Wulan yang harus menghadapi cobaan bertubi-tubi dari tempat pelacuran, di rumah rehabilitasi, saat bertemu Siska, bahkan saat ia akan kembali pulang ke kampung halamannya. Semua ia hadapi dengan memohon bantuan pada Sang Khalik. Begitu konsistennya hati Wulan dalam menentukan pilihan, membuat ia selalu selamat dari tangan-tangan kedzaliman. Begitu pula dengan Sabrina. Ia awalnya dibuat menderita oleh perlakuan ibunya yang lebih mementingkan harta, kehilangan nyawa bayinya di tangan ayah kandungnya sendiri, dan kehilangan lain yang lebih besar. Tak lupa Asih yang sedari remaja harus mengalami siksaan pahit dengan menjadi budak ibunya sendiri. Ia dipaksa menjajakan diri pada lelaki hidung belang, sampai akhirnya tak ada jalan lain selain melacurkan diri tatkala kebutuhan hidup mulai mencekiknya.
Semua jawaban dari permasalahan ketiga perempuan itu adalah satu: ibu! Dari ibu, mereka mendapat siksaan, penderitaan, dan cobaan. Namun dari ibu pula mereka akhirnya mendapat kehangatan dan kebahagiaan yang selama ini mereka cari.
Membaca karya Marsiraji Thahir yang satu ini serasa membaca kisah nyata yang penuh dengan keajaiban. Persis pada sinetron atau film yang tokohnya banyak tapi saling berkait satu sama lain. Mengingatkan peresensi pada novel The Hours (Michael Cunningham, 1998) dan filmnya dengan judul sama The Hours (Stephen Daldry, 2003) yang menceritakan tiga wanita di tempat dan era yang berbeda pula, dengan satu benang merah, buku Mrs Dalloway karangan Virginia Woolf.
Dengan cara yang manis dan penuh untaian mutiara kata yang indah, Marsiraji Thahir, menuangkan segala kebolehannya mengolah kata-kata biasa jadi luar biasa. Kerena memang Marsiraji adalah seorang yang produktif menulis prosa dan puisi, maka tak aneh ketika kita membaca keseluruhan isi novel ini dengan bibir berdecak. Kagum atas usahanya menciptakan berbagai alegori atau kiasan, penggunaan eufemisme yang pas di bagian yang agak tabu untuk dijelaskan dengan kata-kata gamblang, dan hiperbola yang justru menambah efek dahsyat pada emosi jiwa yang dialami seorang tokoh.
Simak kutipan berikut ini: Suara jangkrik dan hembusan angin yang menerpa dedaunan di kanan-kiri villa itu seperti menelurkan kesunyian demi kesunyian. Kemudian detak jam mengiringinya. Memperdengarkan detik demi detik yang berjalan. (hlm. 287) Begitu kuatnya keinginan penulis untuk menggambarkan keadaan sepi yang ada di salah satu setting cerita.
Dengan alur yang maju mundur dan gaya bahasa bak puisi itu, pengarang bisa disebut berhasil. Namun penggunaan majas yang di sana-sini malah membuat pembaca merasa gemas karena cerita sulit beranjak. Penulis malah sibuk dengan urusan penggambaran suara hati yang berlebihan.
Dari segi tata bahasa, tak ada yang bisa disebut kurang karena memang sudah seharusnya seorang penulis novel menguasai kaidah kebahasaan yang dipadankan dengan kesusastraan. Bahasa sederhana dengan sedikit aura kedaerahan yang terbawa tak terlalu mengganggu pembaca sehingga mudah dipahami. Di luar itu, ada sebuah diksi (ditulis beberapa kali) yang dirasa aneh dan tak terlalu populer, “tutupan”, untuk menggambarkan sebuah rumah yang pintunya tertutup. Padahal penulis bisa saja menyebut “Rumah itu tertutup” alih-alih “Rumah itu tutupan”. Dan pabila ada kesalahan ketik atau salah penggal suku kata di akhir baris, itu merupakan kesalahan yang bisa ditoleransi karena sedikit jumlahnya.
Yang tak biasa dari cerita Kabar Bunga adalah sudut pandang yang dipilih oleh penulis. Memang penulis memilih point of view dengan penutur orang pertama, “saya” atau “aku”. Namun di lain kesempatan, si tokoh yang meng”aku”kan diri itu berubah menjadi orang ketiga, dengan dibuat menjadi “dia” atau “-nya”. Sungguh sebuah kotidakkonsistenan. Pada cuplikan di halaman kover depan dan belakang memang disebutkan bahwa novel ini memiliki tiga narasi, tapi pada kenyataannya ada banyak narator yang membuatnya jadi “pemilik” point of view.
Adapun tema yang menjadi garis besar dari buku ini adalah mengenai keimanan dan ketakwaan sorang hamba pada Tuhannya. Semua tokoh mengalami ujian yang menghadapkannya pada beberapa pilihan. Tentu saja pilihan yang diambil tak selalu baik bagi para tokoh itu sendiri maupun bagi tokoh lain yang berhubungan dengannya. Dan itu menjadi pembelajaran bagi para pembacanya.
Bagi tokoh yang mengambil jalan aman dan selalu istikamah di jalan-Nya, selalu mengingat-Nya di segala kesempatan, maka ia akan mendapat keselamatan dan kebaikan di akhir masa. Sebaliknya, bagi pengambil jalan kesesatan, tak usah menunggu di akhirat, di dunia pun sudah tersiksa lahir batin. Dan itulah yang terjadi pada tokoh dalam novel ini. Karakter protagonis dimiliki ketiga tokoh utama, Wulan, Sabrina, dan Asih, serta beberapa tokoh pendukung lain seperti Pak Handoko, Pak Salimin, dan Bi Ranti. Sedangkan karakter antagonis ada pada tokoh Sugeng, Mamat, Pak Junjung, dan bebeberapa lainnya berubah-ubah sifat sesuai dengan kondisi yang tengah dihadapinya.
Tak peduli walalu masalah itu menyangkut nyawa, sepatutnya semua urusan diserahkan pada Sang Pemilik Segalanya, Allah SWT. Dan tindakan bijaksana yang menjadi cerminan utama dari amanat serta pesan moral ini ada pada kutipan yang diucapkan oleh Pak Handoko (hlm. 54) berikut ini:
“…Allah lebih tau, Tih. Pasti Allah sedang merencanakan sesuatu untuk kita, Kamu harus yakin itu, Tih. Kita tidak usah khawatir, meski kita tidak punya cukup uang, tapi kita masih punya iman. Hanya itu kekuatan kita. Hanya karena itu yang akan membuat kita menang!”
Liburan…Oh, Liburan… (Part 2)
July 22, 2009, 7:43 am
Filed under:
Real Life
Minggu lalu adalah masih dalam suasana liburan. Hehehe, yang liburan mah bukan gw deng, melainkan anak-anak sekolahan yang baru selesaikan semester genap tahun ajaran 2008-2009. Kalo gw sih liburannya cuma weekend aja. Kebetulan minggu ini ada tanggal merah, maka gw liburnya jadi dua hari, Sabtu dan Minggu.
Liburan ini tadinya mau gw gunakan untuk mencaari indekos baru, tapi ga jadi gw lakukan karena lebih tertarik untuk menonton Harry Potter and the Half Blood Prince.
Oh My God, kenapa film ini keluarnya lama banget???
Gw bingung banget mau nontn sama siapa. Banyak banget sih yang ngajakin nonton film itu. Hehehe…berasa banyak fans.
Akhirnya gw putuskan nonton bareng sepupu gw. Dan nontonnya diusahakan di bioskop yang cheap. Heheheh…lumayan kan biaya tiketnya buat beli camilan saat nonton tuh film. Daaannnn…keputusannya adalah nonton di Cibubur Junction!!!
Demi mendapatkan tiket (yang katanya selelu sold out di awal-awal pembukaan loket), gw bela-belain bangun pagi (tidur cuma 1 jam). Langsung berangkat ke rumah sepupu gw itu, berharap dia udah bangun supaya bisa berangkat cepet juga.
Yup, ternyata dia emang udah bangun, tapi belum mandi, amlah sibuk online-online baca apaaan gitu di Facebook di HP-nya. Huh!!! Untung gw ga punya Facebook, kalo punya…pasti males mandi kaya dia. Heheheh…
Gelagat ga enak gw rasakan saat melihat mobil di rumahnya lagi dibuat ternganga (kap mesinnya). Pasti ada apa-apanya nih mobil. Dan benar saja, mobilnya bikin semua jadwal jadi ngaret. Belum lagi sepupu gw itu ada janji ke dokter gigi. Haduuuhhhh….bakal lama lagi deh.
Ternyata emang iya, kami baru berangkat jam 10an gitu, padahal udah gw rencanakan berangkat jam 9.
Perjalanan ke dokter gigi ternyata ga lama, tapi di dokter giginya lama bangeeet! Bukan dokternya yang bikin lama, tapi ngantrenya itu loh. Dengan bosannya, gw dengerin beberapa lagu di HP gw ampe hafal. Hahaha…
Selesai dari dokter gigi tuh sekitar jam setengah satu siang. Uuuh, bakal kehabisan tiket deh.
Dari dokter gigi (yang terletak di Condet) langsung meluncur ke Cibubur, menggunakan kendaraan umum. Apa coba? Hehehe, metro mini 53, trus disambung dengan mikrolet 16. Haduuuuh, perjalanan yang sangat melelahkan. Gw sampe terkantuk-kantuk, padahal gw duduknya di depan. Malu banget kalo sampe dilihat orang lain yang gw lewati. Huhuhu…
Setelah sampai di tempat tujuan, Cibubur Juction, gw dan sepupu gw langsung ngibrit kaya dikejar pencuri aja. Langsung naik ke lantai atas yang ada studio 21nya. Eh apa udah jadi XXI yah? Pokonya kami langsung ke sana, dan tepat seperti dugaan kami, udah banyak banget yang ngumpul di sana kaya ada yang hajatan aja. Udah banyak yang antre di loket. Untungnya pas gw ngantre, ada barisan lowong, snap snap snap, gw serobot, dan dapatlah posisi di depan si Mba penjual tiket, hehehe…
Entah saking terseponanya dengan rambut gw yang acak-acakan karena telah berlari ribuan kilometer, Si Mbanya langsung nawarin minum. Ehehehehe, nawarin tiketnya mksd gw. Uhhhh….. Ternyata gaada lagi pilihan selain studio 1 jam 18.10. Abis magrib sodara-sodara!
Yah, gapapa lah. Udah berjuang sejauh ini masa ga jadi nonton, gw beli aja langsung dua tiket, walaupun duduknya di depan. Hahaaha…
Waktu menunjukkan pukul 13.30…filmnya baru akan mulai jam 18.10…. selama 5 jam harus ngapain aja nih? Masa tidur??? Hahaha, tapi itu good idea.
Tiba-tiba…ting… aha, ada ide membunuh waktu 5 jam dengan bermain dan berselancar di indahnya taman dan Danau Cibubur. Yups, udah lama gw ga ke Danau Cibubur, makanya gw mau maen ke danau itu untuk melepas kangen.
Guess what!!! Di danau yang membentang seluas sekian hektare (huhuhu, gatau luasnya segimana) itu terasa deburan ombak kecil yang meriak seiring embusan angin semilir sejuk dari hutan seberang danau tersebut. Di tepian danau itu tampak beberapa ikan paus dan angsa berwarna-warni yang tak sabar hendak digenjot.
Hahaha…beneran deh, kalo ke situ bawaannya pengen menggenjot sepeda air, mungkin itu namanya.
Tanpa banyak basa-basi lagi, gw langsung beli tiket naik angsa-angsaan nomor 10.
Dan Njot, njot, njot…menggenjot pedal angsa itu sampai ke tengah danau yang…kayanya dalem banget tuh.
hahaha…serem juga…tapi gw seneng banget!!!
30 menit berlalu, rasanya betis gw udah mau meledak. Turun deh, langsung istirahat di pinggir danau, trus ketiduran di mushala. huhuhuhu…emang niat!!!
Dan tepat jam 5 sore, gw kembali ke Cibubur Junction, tentu saja setelah membeli somay. Hehehe, buat makan saat nonton Harpot. Sesampai di 21 lagi, gw nunggu magrib, dan untuk mengisi waktu luang, gw belanja dulu beberapa makanan dan minuman teman siomay tadi.
DAAANNNNN……
Ketika Maria Oentoe mengumumkan bahwa pintu teater satu telah hilang, kami pun berjejalan memasuki studio satu yang ternyata sudah dipenuhi Harpot Maniax.
Uuuuh, filmnya dimulai setelah iklan Bodrex. Kenapa Bodrex yah?
Daaaaannnnn….. di tengah-tengah acara, mata ini….oh mata ini….mata ini pun terpejam dengan suksesnya, sehingga adegan “itu” pun ga bisa gw liat. Huhuhuh…..
Liburan… Oh, Liburan… (Part 1)
July 20, 2009, 9:36 am
Filed under:
Real Life
Dua mingu liburan ternyata ga bikin gw senang sepenuhnya. Lagipula liburannya bukan dua minggu penuh ko. Hehehehe…
Tanggal 11 Juli, gw pulang kampung, dengan rencana mau jalan-jalan ke curug alias AIR TERJUN CILEAT yang ada di kampung gw. Huhuhu, udah lama nih ga jalan ke sana.
Namun, apa daya…temen-temen gw pada ga bisa dateng. Hahahaha…akhirnya gw ga jadi pergi aja. Sungguh kecewa atas keputusan itu. Akan tetapi di tengah keputusasaan yang gw rasakan, gw coba menghibur diri dengan menyewa striptease dateng ke rumah.
Eh, hehehe, ngga deng, gw menghibur dir dengan membaca buku gw yang baru gw beli di pameran buku beberapa pekan lalu. Bukunya adalah PAMALI. Ada review-nya di halaman sebelum ini. Sungguh lucu tenan buku alias komik itu, bikin gw lupa sama kesialan seharian itu.
Baiklah, jalan ke Curug Cileat-nya ga jadi bareng temen, akhirnya gw putuskan jalan sendiri aja keesokan harinya. Tapi…uuuh, gw ga dikasih izin sama ortu gw, katanya gw takut hilang di tengah gunung. Huhuhu…ortu gw berlebihan…
Jadi…liburan di kampung gw cuma dihabiskan untuk tidur…lamaaaa baget. Trus..sempet juga dipijitin.

ini mau dipijitin apa mau di...
Hahahaha, padahal ga ngapa-ngapain, ko badan jadi pegel gini. Dasar manja!
Eh, bukan salah gw deng kalo gw akhirnya dipijitin sama Mang Iyuk. Dia sih dateng ke rumah nenek gw dengan membawa laporan hasil panen pagi musim ini. Yah, kebetulan yang sangat diidamkan, Mang Iyuk sang pengurus sawah nenekku, juga adalah seorang pemijat profesional. Sayang sekali, kemampuannya ga diturunkan pada anak-anaknya, ga punya murid juga. Oh Master of Massage, nasibmu sungguh merana…
Tapi…yah over all liburan gw ga menyedihkan amat lah, gw bisa mengasuh keponakan gw yang udah bisa jalan dan ga berhenti makan. Gw juga bawain buku buat dia untuk nelajar membaca.

sebelum baca buku, makan dulu...
Hahahaha…baru juga bisa jalan, ko udah diajarin membaca sih… Paman yang keren!!! Biarin deh, biar dia cepet pintar!
Yups, emang keponakan gw, yang dinamai Zaki itu keliatannya lebih cerdas dari usianya. Dia udah bisa operasikan komputer MAC, bisa menghitung laba-rugi warung neneknya dia, bisa membantu pak tani membajak di sawah, dan lain lain. Hehehehe… becanda deng.
Sebenarnya kemampuan dia baru sebatas bilang “Ayah”, ga bisa tidur kalo ga ngempeng, dan ga mau makan serabi, cuma mau rempeyek aja. Eh iya, ada kebiasaan ajaib loh tentang keponakan gw ini.

The Master of eMpeng...
Kalo dia bangun kala tidur, dia suka nyariin tangan, tangan siapa aja, trus kalo udah disodorin tangan (tanpa tertutup pakaian), dia akan langsung mengelus-ngelusnya dari ujung lengan sampai siku. Huhuhuhu…kebiasaan yang aneh!!!
Gw sebenrnya juga punya kebiasaan-sebelum-tidur yang hampir sama anehnya dengan keponakan gw itu, tapi hehehhe..tar aja deh ceritanya.
Oh iya, seperti biasa, kalo gw pulang kampung, gw selalu mandi, tapi cukup sekali. Hihihi…habisnya, dingin banget siiih. Iiiihhhh, badan gw ampe menggigil kalo mandi pagi, gw mandinya abis Dzhuhur aja, udah umayan anget lah. Selain air yang dingin, udara di sana juga masih sejuk looooh. Buktinya di hari pertama gw liburan, sag kabut begitu senangnya menyelimuti kami sampai pukul setengah tujuh.
Wuiiihhhh, kata orang-orang di sana juga, hari itu tumben-tumbenan embun kabut turun dengan lamanya. Udaranya pun tak kalah dingin. Tapi….ajaibnya, keponakan gw ko ga ngerasa dingin yah? Dia malah gamau dipakein jaket. Hihihi….udah tahan dingin kali ya.

Breakfast rempeyek with his Grandma
Yah, dingin-dingin gitu, gw jadi pengen makan serabi. Naaah, kalo mau tau tentang petualangan gw makan serabi, baca aja postingan gw sebelum-sebelum ini!
Hari kedua liburan pun gw lalui dengan cukup desperate. Gw yang diamanati barang untuk diberikan pada tetaangganya temen gw, terpaksa harus mengantarkannya di pagi buta. Sialnya, gw bangun kesiangan. Di mobil yang gw naiki….uuuuuhhhhhhhhhh anginnya dingiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnn bgt. Kuku gw sampe kerasa beku. Dan pas ada matahari, kayanya jari tangan gw kerasa kebas. Parah deh.
Di hari ke tiga, gw yang bermaksud pulang hari itu, berusaha berburu oleh-oleh buat yang udah minjemin kamera, buat yang minjemin tas ransel, dan tentu saja buat temen-temen di kantor dan di kontrakan.
Coba tebak…apa yang kudapat???
Lumayan lah, karena gitreknya ga dapet, gw beli aja sale pisang. Hohohoho…lumayan lah daripada gaada oleh-oleh sama sekali. Dan (thanx to you, Mom) gw dibekali nasi timbel plus pepes ikan mas. Ahahaha…nikmatnya…
Detik-detik Menjelang Migrasi
July 20, 2009, 2:54 am
Filed under:
Real Life
Sebulan yang lau gw bilang ke temen-temen gw: “Waduuuh, sebulan lagi gw harus udah pindah kos nih, tapi sampe sekarang belum dapet kos baru.”
Seminggu yang lalu: “Waduuuh, gw belum nyari-nyari kos baru nih.”
Dua hari yang lalu: “Gw pindah ke rumah sebelah aja deh!”
Hehehehe…ceritanya bntar lagi gw harus migrasi, dari kos lama ke tempat kos baru. Udah desperate ga nemu kos yang bener-bener gw pengen, akhirnya gaada pilihan lain selain pindah ke sebelah. Begini ceritanya…
24 Juli 2008 adalah hari pertama gw ngekos bareng temen gw dengan mengontrak sebuah rumah kecil berkamar tidur tiga. Di tiap kamar tidur itu tidurlah masing-masing dari kami. Tapi sebentar lagi…kami akan berpisah. Denger kata kos atau ngekos apakah lebih aneh daripada indekos? Soalnya menurut KBBI:
kos ? indekos (maksudnya, lihat Indekos)
pas dilihat…
in·de·kos v cak tinggal di rumah orang lain dng atau tanpa makan (dng membayar setiap bulan); memondok: tetangga saya tidak menerima orang — , hanya menyewakan kamar;
Oooh, gitu toh.
Nah, di tempat gw indekos, gw ninggalin debu di mana-mana. Hahaha…dasar pemalas! Biarin deh, toh temen-temen gw aja males bersih-bersih, gw jadi kebawa males juga deh.
Kipas angin di kamar gw udah item banget banyak debunya. Untung ga rusak kaya di kamr temen gw. Hehehehe…
Kamar mandi juga masih belum gw gosok tuh. Gw mah cukup dengan nguras bak-nya aja kalo udah keliatan ada jentik nyampuk. Dan sekarang, saat jentik nyamuknya udah mulai terlihat, gw males nguras karena…. pompa airnya rusak, alias ga mengeluarkan air setetes pun.
Hahaha, ironis sekali. Di saat gw harusnya bersih-bersih menggunakan air sepuasnya, nyuci sepeda, nyuci baju kotor yang bertumpuk, ngepel, dan yang berhubungan dengan perairan, eeeh airnya malah ngadat.
Temen gw yang satu sih udah mulai pindahan dari kemarin-kemarin. Ke Depok. Pindahannya nyicil sedikit demi sedikit. Kalo temen yang satu lagi sih baru tadi pindahannya. Langsung, sekaligus, langsung abis semua barangnya dibereskan. Lha gw???
Ah, gw mah nyantai aja. Wong barangnya tinggal dilemparin ke rumah sebelah. Yang paling berat sih cuma kulkas doang. Kalo yang satu itu mah emang perlu digotong, dan gw pasti butuh tenaga ekstra dari temen-temen gw.
Huhuhu, kasian teman gw. Di saat dia mau pindahan, gw kan tadinya mau minta pinjemin mobil Om gw, tapi ternyata mendadak mogok. Yah, terpaksa deh dia nyewa mobil orang. Untuuuung gw ga punya banyak perkakas. Cukup kulkas doang. Hehehehe….
Hati-hati… Pamali
July 16, 2009, 9:38 am
Filed under:
Serius

Pamali kalo ga baca buku Pamali!
“Jangan suka nongkrong di depan pintu, pamali, nanti susah dapat jodoh.” Mungkin itu adalah salah satu pamali yang pernah Anda dengar dari orang tua zaman dulu. Para orang tua itu tetap ingin “mewariskan” banyak ke-pamalian-nya pada generasi muda masa kini. Tentu saja banyak reaksi atas tanggapan pamali yang didengarnya.
Seorang Norvan Pecandupagi berusaha menampilkan semua hal-hal berbau pamali itu ke dalam sebuah buku. Komik lebih tepatnya. Dan Ayu Utami, yang memberikan pengantar pada komik ini, menyebut komik ini sebagai “kamus pamali”.
Apa itu pamali? Benar kata Ayu Utami, di Kamus Besar Bahasa Indonesia,
memang tak ada kata pamali, yang ada adalah pemali.
pe·ma·li n pantangan; larangan (berdasarkan adat dan kebiasaan)
Akan tetapi, karena Norvan yang (memang dan menurut salah satu tokoh di komik ini) bernama asli Engkus Kusmiran adalah orang Sunda, dan kebetulan di Indonesia pamali lebih populer dibandingkan pemali, judul Pamali-lah yang dipilih Norvan untuk komik ini.
Nuansa Sunda memang sangat kental dalam komik ini, bukan pada gambar-gambarnya yang menggambarkan kesundaan, namun semua pamali diangkat dari budaya Sunda. Semua pamali dijelaskan lewat bahasa Sunda, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan dilanjutkan komentar-komentar miring seputar pamali yang dibahas.
Misalnya saja pada halaman…oh, ternyata komik ini tak memiliki angka penunjuk halaman. Simak saja:
“Parawan ulah dahar dina coet, bisi meunangkeun aki-aki.” Artinya: “Perawan jangan makan di cobek, nanti menikah dengan kakek-kakek.” // Weiits, seru juga nih. tapi kayaknya hari gini ini mitos udah jarang banget dipake. bukan berarti masyarakat sekarang ini pintar-pintar, melainkan hari gini emang udah susah nyari perawan. Parah, Udaah… Gak usah mempersoalkan kaum wanita atau pria yang salah. Ayo kita ngaca aja. Sama-sama…
Hahaha… membaca sentilan “hari gini emang susah nyari perawan” terasa lucu nan menohok perasaan orang tua karena kini sudah zamannya keperawanan anak gadisnya dipertanyakan.
Kelucuan tak hanya sampai di situ, Norvan menampilkan dialog para tokoh di komiknya dengan kocak. Misalnya ketika tokoh Engkus menegur seorang gadis supaya tak makan pakai cobek, sang gadis malah menjawab, “Siapa yang makan dari cobek? Orang cobeknya gue makan juga!” sambil melahap cobek masuk ke mulutnya.
Atau ketika Ceu Entin melarang Engkus bersiul di malam hari, ditakutkan ada macan datang. Eeeeh…tak dinyana, yang datang malah grup dangdut Trio Macan yang terkenal goyang seksinya. Dan Engkus yang masih setengah terpana tak percaya hanya bisa bilang, “Thanx Ceu Entin!”
Dengan harga Rp35.000 yang tergolong mahal untuk ukuran komik, gambar kartun di komik ini tak bisa disebut rapi dan imut layaknya tokoh-tokoh di komik/manga Jepang, dan tak segagah tokoh komik hero ala Amerika, namun Norvan menutupi kekurangan itu dengan menonjolkan ekspresi wajah si tokoh yang “kalo marah keliatan marah”, atau “kalau sedih terlihat benar-benar sedih”, begitu hidup-lah gambarnya. Ditambah dengan “kekurangan” lain, yaitu hidung semua tokoh dibuat bercuping enam. Benar-benar jadi gambar yang aneh dan di luar kebiasaan para pembuat komik. Mengingatkan kita pada komik strip Benny & Mice (di harian Kompas Minggu), namun dengan background (setting) yang lebih sepi.
Tak hanya penulis saja yang bercerita tentang kepamalian di komik ini, ada beberapa “curahan hati” masyarakat mengenai pamali yang ada di kehidupannya. Misalnya Ibu Empat Fatimah yang mendefinisikan pamali sebagai larangan atau pantangan, tapi ia tak tahu siapa yang memulainya karena pamali biasa diceritakan turun-temurun. Walau terdengar mengada-ada, pamali sebenarnya bermanfaat juga untuk mengajarkan tata krama dan kearifan perilaku.
Ibu Empat Fatimah pun menceritakan sebuah kisah tentang misteri kayu
pemakaman. Kisahnya boleh dibilang ajaib dan penuh nuansa magis, dan akan
membuat pembacanya merinding “percaya ngga percaya”.
Mengingat komik ini minus gambar seronok dan sarat akan petuah lama serta “ajaran” yang hampir hilang di masyarakat, maka komik ini cocok dibaca semua kalangan, tua-muda dan pria-wanita. Cocok untuk dibaca di mana saja, kecuali di tempat ramai seperti di dalam kendaraan, bisa-bisa Anda disangka gila karena tertawa terpingkal-pingkal sendirian.
Dan pesan dari si pengarang yaitu: Anda pamali membaca buku ini sambil mengendarai motor, nanti bisa terjun ke jurang. Apalagi membaca komik ini di tempat gelap, nanti betis Anda katarak!

Kovernya ada dua. Serem ih gambarnya, lubang idung aja ada 6.
Identitas Buku:
Judul: Pamali - Segerombolan Komik tentang Mitos dan Pantangan!
Pengarang: Kak Norvan Pecandupagi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Ukuran: 20 x 13,5 cm
Tebal: 120 halaman
Kover: Soft Cover (dobel)
Harga: Rp 35.000
Terbit: Juni 2009
Kategori: Komik/ Fiksi dan Sastra/ Novel/ Novel Grafis
No ISBN: 978-979-22-4752-7
WTS Virgin, Serabinya Hangat
Hari masih gelap, dingin, dan berkabut, namun saya tak kuasa menahan hasrat untuk mencari kehangatan WTS di subuh itu. Oh, tenang…bukan WTS-nya Wanita Tuna Susila, melainkan Wanita Tukang Serabi.
Ya, kue serabi. Penganan asli Indonesia ini memang tak diketahui asal daerah pencetusnya, namun saya berani menjamin bahwa serabi ini berasal dari Tanah Priangan. Terbukti di daerah Cisalak, Kabupaten Subang, Jawa Barat, ada banyak penjual serabi di pinggir jalan setiap paginya. Bayangkan, dalam radius 500 meter ada empat WTS yang standby di pinggiran jalan.

Ujaaang, kadieu geura...nyorabi heula yuuuu...
Di desa yang terletak 30 km dari pusat Kabupaten Subang ini, para WTS memiliki spot masing-masing dalam menggaet pelanggan. Yang ada di sebelah selatan, pelanggannya adalah ibu-ibu dan petani yang akan berangkat ke sawah. Di sebelah utara, pelanggannya adalah para tukang ojek dan masyarakat yang hidupnya di sekitar pasar dan terminal. Di pusat desa, pelanggannya hanya orang-orang lewat saja. Dan di sebelah barat, tempat langganan saya, pelanggannya adalah kaum santri dan agamawan yang pagi harinya dihabiskan untuk bersantai sebelum menuntut ilmu agama.
Para penjual serabi yang rata-rata berusia paruh baya itu telah memulai usahanya sejak dulu. Sejak saya masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak pun sering kali dibekali makanan berbahan dasar tepung beras dan santan kelapa ini. Dan di daerah tempat saya dibesarkan ini, serabi dilafalkan “sorabi”. Mungkin atas dasar inilah semua orang yang mengenalnya sepakat menamai “serabi” agar lebih Indonesia.
Dahulu, serabi hanya dikenal memiliki dua rasa saja, yaitu orisinal (polos) dan spesial (pakai telur).

siap dibantai...
Dan di daerah lain mungkin hanya dikenal satu rasa polos dengan saus kinca (gula merah).
Dalam perkembangannya, serabi berevolusi menjadi makana transmodern karena penganan tradisional ini mengalami perubahan rasa, varian, dan bahkan proses pembuatannya menjadi lebih modern tapi tetap bernuansa tradisional. Namun sesuai dengan permintaan masyarakat, rasa sang kue berongga ini bertambah, ada yang bercita rasa tetap asin seperti memakai kornet, keju, suiran daging ayam, sosis, dan ada pula yang memvariasikan isian manis, seperti berbagai macam selai, cokelat, cappuchino, dan lain sebagainya. Dan serabi yang rasanya macam-macam itu sekarang kita kenal dengan nama Serabi Bandung karena mungkin di Bandung-lah pertama kali serabi dimodivikasi.
Akan tetapi, pagi itu saya mencari WTS yang masih virgin, alias serabinya masih original. Dan kebetulan sekali, di Desa Cisalak itu tak ada serabi yang “macam-macam”. Hanya ada serabi putih polos dan serabi spesial pakai telur. Telurnya bisa dari sang WTS, bisa juga kita bawa sendiri dari rumah. Telur yang dibawa sendiri dari rumah tentu saja boleh telur apa saja, telur puyuh, ayam kampung, ayam negeri, bahkan telur itik dan angsa pun boleh-boleh saja, asal masih mentah dan tidak kacingcalang (Sunda: telur busuk).
Fla-nya pun bukan dari kinca gula merah, namun sambal oncom yang pedas eksotis yang bisa dicocol-cocol dicoel-coel di atas piring.

cocol-cocol...coel-coel...ammmmm...yummy...
Sebagai pelengkap, ada rempeyek dengan taburan kacang atau ebi. Krenyes-kreyes gimanaaa gitu… Makin gurih saja lah sajian serabi asli di pagi buta itu.

Serabi spesial pakai telur plus sambal oncom yang eksotis
Eitssss…. tak hanya serabinya saja yang masih asli, proses pembuatannya pun masih sangat tradisional. Di saat WTS yang lain menggunakan cetakan logam dan sudah pindah ke kompor minyak tanah (bahkan ada yang sudah mulai menggunakan gas sebagai kempensasi konversi minyak tanah ke gas), Bi (lupa lagi namanya) tetap setia menggunakan cetakan tanah liat dan kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Dengan menggunakan tungku kayu bakar dan periuk cetakan dari tanah liat, membuat rasa dari serabi yang saya santap menjadi sangat sentimental.

uuuh sedapnya serabi telur ini...
Tak terasa, satu serabi spesial, tiga serabi polos, dan tiga rempeyek kacang habis saya lahap. Maklumlah, jarang sekali mendapat kesempatan memakan camilan mengenyangkan ini kalau tidak sedang pulang ke kampung halaman. Kehangatan yang saya dambakan pun menjadi dobel. Ya hangat serabinya, ya hangat karena sideang (Sunda: berdiang) di depan tungkunya.

sideang-sideang...sambil menunggu serabinya matang...
Pertanyaan Minggu Ini #3
July 10, 2009, 9:40 am
Filed under:
Real Life
Di sela-sela kesibukan luar biasa dan gegap gempita Pemilihan Presiden Indonesia,
temen-temen sekantor gw dikagetkan, bagai mendengar suara petir di siang hari bolong, dengan adanya pemblokiran beberapa situs favorit masyarakat kantor masa kini.
Buat gw, yang paling menyesakkan dada (seperti terimpit kusen kayu yang jatuh saat gempa bumi) adalah dengan ditutupnya situs Youtube. Yah, you know why… Youtube adalah tempat gw mencari video-video kesayangan, seperti acara Americas Next Top Model, film-film kartun, dan tentu saja videoklip
Christina Aguilera.Menyedihkan sekali…
Bagi yang lain, hal ini merupakan bencana, karena situs games Travian adalah yang paling menyita bandwith. Bayangkan saja, permainan virtual yang “hanya” menyajikan data-data tanpa gambar bergerak itu bisa membuat beberapa Travianista (sebutan bagi pemain Travian) bertahan menempelkan pantatnya di kursi kator. Ada yang ga pulang-pulang, banhkan ada juga yang sampai mengeluarkan uang beneran untuk mendukung “pasukan maya”nya.
Bagi yang belum tahu, Travian itu sejenis game SIM City lah, tapi dalam data lebih kompleks dan visual lebih cupu.
Games itu sih menghancurkan hati beberapa orang saja, yang parah mah adalah susah diaksesnya situs jaring pertemanan Facebook. Yang ini ga diblok sih, cuma dibatasi aja penggunaannya. Kalo udah mulai sore, udah susah deh buka situs yang satu itu. Akibatnya, banyak orang pada kelimpungan mencari “hiburan” di sela-sela pekerjaannya.
Awalnya sih, gw yang ga mau sama sekali bikin akun Facebook, berniat membuat akun facebook dalam waktu dekat ini. Itu kaena gw dipaksa oleh beberapa teman gw yang sangat keranjingan Facebook, meninggalkan Friendster yang lebih dulu dikenalnya. Tapi… karena kondisi komputer kantor yang mulai susah membuka Facebook, nyali gw jadi ciut, dan niat untuk ga bikin Facebook pun makin menggelora.
Dan dari segala kekacau-balauan gara-gara pemblokiran itu tercetuslah sebuah pertanyaan dong-dong super duper bego:
“SATU PUTARAN ITU APAAN SIH, MAS?”
kata salah seorang layouter yang duduk di sebelah gw…
Pertanyaan Minggu Ini #2
Aura persaingan Pemilihan Presiden 2009 di negeri ini semakin meruncing kaya bambu yang dulu biasanya dipakai para pejuang kita untuk menumpas pasukan penjajah. Saling serang kritikan dan mengorek-ngorek borok bernanah kelemahan para saingan pun tak ragu dilakukan. Pokonya, kalo mereka ada di games Street Fighter, pasti udah saling keluarkan jurus-jurus maut tuh.

Jurus Kunyuk Melempar Buah...
Dan puncaknya adalah hari ini, para calon presiden Indonesia periode 2009-2014 bertarung di arena perdebatan antar calon presiden, di depan ratusan juta warga Indonesia yang disaksikan di layar televisi berkaca.
Sayang sekali, gw ga bisa menonton pertandingan itu karena kesibukan pekerjaan yang menyita waktuku menghirup udara bebas (halah, emangnya gw prisoner of azkaban…). Padahal kata temen-temen gw sih lumayan seru. Seseru apaan sih, sampe-sampe banyak yang menyayangkan karena tidak sempat menontonnya? Yang gw bayangkan sih…ya saling ledek, saling lempar gelas, sampe saling hancurkan podium masing-masing. Hahaha…it’ gonna be fun, rite?!
Yang pasti, salah satu temen gw (seorang layouter) yang sama-sama berkutat dengan pekerjaannya di kantor yang sama dengan gw, bertanya dengan polosnya:
“DEBAT CALON PRESIDEN TADI, SIAPA YANG MENANG?”
Gw: “…”
When I Feel Sexy
June 22, 2009, 7:13 am
Filed under:
Real Life
Bagi yang narsis, suka mikir ga, kalo kita tuh makhluk paling seksi yang diciptakan Tuhan? Ahahaha…dasar narsis!!!
Tapi gapapa deng, it’s so human! Gw juga sering bgt berpikir: “Wooow, gw seksi banget yah kalo lagi pose gini.” (sambil ngaca)
Atau kalo gw lagi di kamar mandi, “Wuih, perut gw rata banget, keren!!!” (padahal ga cuma perut yang rata, tapi dada juga, alias kurus banget)
Nah, di saat itulah I’m feelin’ so sexy. Sendirian di rumah, mondar-mandir ke sana-kemari tanpa busana. Hehehe…it’s feel like…this is my land, my world, no one can take this over me!
Cabul ih!!!
Hohoho, langka ko kesempatan itu. Apalagi yang satu ini lebih langka, ga bisa dicari2 cari, datang sendiri kalau kita lagi ga sadar. Apakah itu???
Suaraku serak…apalagi kalo hilang sama sekali….
Yup, that’s when I feel soooo sexy…
Kebetulan banget, udah hampir seminggu ini suara gw aga serak-serak gimanaaa gitu. Dan penyebabnya adalah karena Kamis kemarin gw teriak-teriak sekuat tenggorokan ini mengaum bagaikan singa lapar yang sedang menakut-nakuti kambing muda yang sedang jadi incaran untuk makan malamnya.
Ihihihi…ngapain juga gw teriak-teriak yah? Itu karena Kamis kemarin gw nonton pertandingan Indonesia Open di Istora Senayan Jakarta. Pertandingannya hillarious banget. Seru-semeru, rame-gurame, gegap-gempita, riuh-rendah, kacau-balau-lah kondisi saat itu. Dimulai dari kedatangan gw ke arena Istora yang dipenuhi oleh calo penjual tiket, hati ini udah ketar-ketir aja.
Loket yang ga buka-buka diserbu antrean para calon penonton pertandingan bulu tangkis Indonesia Open hari itu. Padahal loketnya emang ga bakal buka lagi hari itu karena tiketnya udah sold out, diborong semuanya sampe ke serpihan-serpihannya oleh para calo sialan itu.
Akhirnya gw (yang kebetulan ditemani temen gw yang berbaik hati mentraktir makan dan membelikan tiket nonton pertandingan hari itu) masuk juga tuh ke gelanggang (hihihi, kaya lumba-lumba aja masuk gelanggang). Wiiii…penontonnya lumayan banyak.
Alhamdulillah, gw dapet tempat duduk yang lumayan enak, point of view-nya dapet banget dah…
Pertandingan bulu tangkis yang gw liat hari itu adalah pertandingan Peter Gade dari Denmark, Hendra/Markis, Taufik, Sony, Maria Febe, Nova/Lili, Alvent/Hendra G, dan Nitya/Greysia dari Indonesia. Keren-keren banget dah pertarungannya, pada menang, kecuali yang tadi gw sebut terakhir sih, hehehe…
Dan gw sangat senang meniknati pertandingan Saina (India) vs Juliane (Jerman), yang ga gw sangka dimenangkan oleh Saina. Huhuy, udah cantik, jagoan pula si Saina ini. Dan…ternyata dia menang di babak final melawan China. Huhuhu….asyoy gebhoy dah!

aca aca, nehi nehi
Saking asyiknya gw menikmati pertandingan dengan penuh semangat, gw sampe ga peduli teriak-teriak kaya orang gila baru kehilangan anaknya. Hebanyakan sih teriak: “Eya…Eya…” Atau: “Anjrit, belegug siah!”
Huuuuu….Yeeeaaaahhh….
Gitu-gitu deh teriakan khas penoton. Tapi yang paling sering sih pekikan “In donesia, pok pok pok- pok pok pok” sambil menepok-nepokkan balon tepokan. Uhuhuhu…namanya apa tuh ya?
Tapi paling seru mah pas kalo ada pemain yang akan bertanding, yang baru di-announce sama si announcer. Pemain yang biasanya disambut dengan meriah adalah, ya siapa lagi kalo bukan para pemain Indonesia. Naaah, ada tuh pemain yang selalu disambit sama para penonton. Mereka adalah para pemain Malaysia. Uhuhuhu….lu cu banget dah kalo liat wajah mereka saat terdengan keriuhan dan sorakan “Huuuuuuuuu…………” yang menggema seiring langkah mereka ke lapangan.
Dan parahnya lagi, isu-isu ga penting pun dibawa sampai ke lapangan. Para penonton Indonesia serempak meneriakkan yel-yel: “Manohara, pok pok pok, Manohara, pok pok pok” sambil menepok-nepokkan tepokannya.
Kala itu juga, wajah si Malaysia langsung merah padam. Duuuh, malu banget deh pasti….
Tapi gw sih ga ikut-ikutan teriak-teriak Manohara, Manohara. Hihihi, ngapain juga sih, orang ga penting yang dikawinin sama pangeran bekantan itu disebut-sebut. Tar kalo dia datang, bisa-bisa dia mewek-mewek lagi deh. Hihihi….
Untung gw ga ikutan teriakin nama Manohara, kalo ikutan, wiiiih, pasti suara gw tambah abis deh. Tapi aneh deh, pas istirahat Magrib, gw kan solat trus makan, eh, suara gw langsung balik lagi. Aneh bin ajaib!!!
Ya udah deh, gw semangat lagi teriak-teriak kaya anak ABG ngeliat Pasha Ungu jalan di mal pake baju daster. Sumpah, teriakan gw ternyata masih dan malah tambah bertenaga kuda luar biasa kala menyaksikan Taufik “Cupu” Hidayat melancarkan smes-smes keras ke arah lawannya dari Thailand.
Setelah seluruh pertandingan dari kubu Indonesia berakhir, akhirnya gw pulang aja. Tapi…eits… ada apa tuh jepret-jepret di kejauhan sana.
Ooooo….ternyata ada yang poto-poto. Ahahaha….pada cupu banget deh, masa pada poto-poto di standing character tak berkepala gitu sih? Tapi…gw akhirnya tergoda juga…
Hahaha…akhirnya gw coba juga deh. Berpose ala pemain badminton profesional andal bersuara serak-serak parau becek bertenaga kuda bersayap garuda dengan smes menukik ala Lim Sui King ngejengkang mau gebukin kasur kapuk pake raket ajaib.
That’s when I feel sexy…
You Are What You Watch
Huhuhu… biasanya sih gw dengernya ungkapan “You are what you read” tapi karena ini mah hubungannya dengan apa yang gw tonton, maka ya “You are what you watch”.
Kan gw lagi doyan-doyannya nonton film seri barat, seneeeeeng benget, sampe-sampe ngebayangin adegan demi adegan sebelum tidur, dan membayangkan bagaimana kalo hal yang gw tonton itu terjadi pada hidup gw yang tenang adem ayem gemah ripah loh jinawi ini.
Tapi sayang beribu sayang malin kundang, bayangan yang dibayangin (hihihi apaan coba) itu cuma bisa dibayangin aja, padahal gw ngarepnya muncul di mimpi juga. Kan keren tuh kalo kebawa mimpi. Eh ada sih yang pernah kebawa mimpi, salah satunya pernah gw ceritain di blog Girls in My Dream.
Kemarin-kemarin sih gw pernah juga mimpi tentang apa yang dulu selalu gw tonton. Mimpiin Americas Next Top Model (ANTM) .
Hahahaha…. you wouldnt believe it!
Duluuuuu… banget, gw pernah mimpiin salah satu finalis ANTM. Dia adalah Christina dari cycle 4.
Huhuhu… di mimpi itu gw ga “ngapa-ngapain” ko. Gw cuma ngasih dia jaket supaya dia ga kedinginan.
Hah, kedinginan???
Iyup, bentul sekali sodara-sodara… dia gw temui dalam keadaan kedinginan di sebuah ruang kelas (tentu saja ini dalam mimpi), dan gw bilang padanya: “Udah lah Chris, ga usah ikut sama om-om itu lagi. Buat apa kamu ikut sama dia kalo kamu cuma disiksa aja!?”
Nah loh, dia tuh model atau cewe simpanan atau pembokat sih, pake disiksa-siksa segala.
Huhuhu… yah namanya juga mimpi, bisa jadi super duper aneh bin ajaib lah.
Trussss…. kalo mingu kemaren… gw mimpi lain lagi. Ceritanya di depan sebuah ruang kelas sekolah (nah loh, dari tadi ruang kelas mulu). Tau deh, ko mimpi gw doyan banget manampilkan ruangan kelas. Apa karena gw bertahun-tahun hidup di sekolah?
Di sekolah itu ceritanya lagi ada pergelaran. Entah deh pergelaran apa. Pokonya suasananya rameeeee… banget. Trus pake ada orang-orang bule segala. Salaah satunya gw ajak ngobrol sok kenal sok dekat gitu lah, soalnya suasananya remang-remang gimanaaa gituh, kaya di film-film. Hebatnya, gw ngajak ngobrolnya tuh pake bahasa Inggris lancar banget kaya jalan tol Cipularang.
Gw: Eh, rame banget yah acaranya?
Bule item pendek botak: Yeah, sort of.
Gw: Er… kalo ga salah, biasanya di pergelaran busana yang banyak modelnya gini suka ada fotografer terkenal. Lo tau ga, kira-kira Nigel Barker datang ga ke acara ini? (Entah apa yang terlintas di benak mimpi gw waktu itu sehingga gw bisa-bisanya nyebut nama fotografer fashion itu)
Bule item pendek botak: Ow, Nigel come here too. (Maksudnya: Nigel Barker juga dateng ke sini ko.)
Gw: Ow, really. Oh may got, i can wait to meet him!
Tiba-tiba Nigel Barker dateng gituh.
Hahahaha….mimpi yang aneh. Dan tanpa basa basi lagi, gw ajak ngobrol dia. Huhuhuhu… kapan lagi ngajak ngobrol orang terkenal.
Gw: Hi Mr Nigel, how are you? (padahal harusnya Mr Barker ya)
Nigel: Fine, thank you.
Gw: Mmmm, Mr Nigel, gw udah liat fot-foto hasil karya lo, keren-keren yah.
Nigel: Yoi dong!
Gw: Btw, foto mana yang paling lo suka? Kalo Gw sih paling suka sama foto itu tuh yang model di ANTM cycle 11, yang mukanya setengah ada di air.
Nigel: Ow yeah, i love that too.
Gw: Trus favorit lo siapa? Kalo gw sih sukanya sama Lauren Brie. Fotonya bangus banget sih. Tangannya melintir gitu ke atas. (Sambil gw peragain tangan gw melintir ke atas)
Nigel: Wow, thats was my favourite too.

Trus… tiba-tiba ada suara musik. Musik apa gituh, kayanya gw kenal. Trus gw bangun deh. Sialan, ternyata itu musik dari alarm hape gw.
Huuuh, kan wawancara sama Nigel Barker-nya belum selesai…